Yogyakarta (ANTARA News) - Penanaman rasa saling percaya merupakan solusi untuk mengatasi konflik di Papua, kata mediator penyelesaian konflik Papua, Farid W Husein.

"Saling percaya merupakan hal penting untuk membentuk rasa senasib dan menciptakan kebersamaan. Dengan rasa saling percaya, konflik dapat dihindari," katanya di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia pada diskusi "Konflik Papua dan Good Governance", penyelesaian konflik di Papua juga bisa dilakukan dengan mencari bibit atau akar masalah yang terjadi.

"Problematika yang terjadi di Papua meliputi dua hal, yakni aspek antropologis dan budaya. Masyarakat Papua adalah masyarakat yang terbagi dalam 250 suku yang otonom dan tidak tunduk satu sama lain," katanya.

Ia mengatakan dalam menangani konflik Papua harus menyentuh empat permasalahan besar, yakni marjinalisasi dan diskriminasi, kegagalan pembangunan, sejarah dan status politik, serta kekerasan negara dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

"Konflik rawan terjadi jika ada persoalan sosial, ekonomi, dan politik. Isu yang terjadi saat ini adalah isu upah di Freeport, kongres rakyat di Papua, dan pembunuhan Kapolsek," katanya.

Sementara itu, mahasiswa Magister Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dari Papua, Yosin Kogoya mengatakan kesejahteraan belum dirasakan masyarakat Papua.

"Ketidakmerataan terdapat pada hampir semua aspek, mulai pendidikan, ekonomi, keadilan hingga kesehatan. Sarana dan prasarana ada, tetapi tenaganya tidak ada," katanya.

Menurut dia, obat-obatan juga seadanya, sehingga banyak yang kurang baik kualitasnya. Bahkan, obat kedaluwarsa masih beredar di pasaran.

Ia mengatakan sampai saat ini mediasi antara pemerintah dengan rakyat Papua masih sangat diharapkan. Pemerintah, dalam hal ini presiden, diharapkan bisa mendengarkan aspirasi masyarakat Papua secara langsung.

"Upaya itu perlu dilakukan, karena sebuah daerah tidak akan bisa maju jika di dalamnya terjadi konflik, termasuk di Papua," kata Yosin.

(L.B015*H010/M008)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011