Jakarta (ANTARA) - Bank of England (BoE) pada Kamis (3/11) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin menjadi 3 persen, level tertinggi sejak November 2008, untuk mengatasi inflasi yang saat ini mencapai angka dua digit.

Dalam pertemuannya pada Rabu (2/11), Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC) BoE melakukan voting, dan perolehan suara mayoritas 7-2 memilih mendukung kenaikan tersebut.

Sejak Desember 2021, BoE meningkatkan suku bunga acuannya dari 0,1 persen menjadi 3 persen. Dalam kurun 12 bulan hingga September, indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) naik ke angka 10,1 persen dari 9,9 persen pada Agustus.

"Inflasi terlalu tinggi. Jauh di atas target 2 persen kami. Tingginya harga energi, makanan, dan tagihan lainnya sangat mengimbas warga," ungkap bank sentral Inggris itu.
 
   (Xinhua)


BoE memperkirakan inflasi harga konsumen akan naik menjadi sekitar 11 persen pada kuartal keempat (Q4) 2022 sebelum melambat menjadi 10 persen pada kuartal pertama (Q1) tahun depan dan selanjutnya turun tajam dari pertengahan tahun depan.

BoE juga memperingatkan tentang prospek ekonomi Inggris, dengan mengatakan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan "mengalami kontraksi sebesar 0,5 persen pada kuartal ketiga (Q3) 2022, dan diproyeksikan akan turun sebesar 0,3 persen pada Q4."

BoE memaparkan bahwa perekonomian Inggris akan tetap berada dalam resesi sepanjang 2023 dan paruh pertama 2024, dan PDB akan pulih secara bertahap setelahnya.
 
(Xinhua)

 

Pewarta: Xinhua
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2022