Beijing (ANTARA) - Liburan Tahun Baru Imlek selama sepekan di China dimulai pada Sabtu (21/1) tanpa pembatasan COVID setelah negara tersebut secara signifikan melonggarkan langkah-langkah menghalau virus.

Namun, arus pergerakan warga yang diperkirakan dalam skala besar telah memicu kekhawatiran akan kemungkinan kemunculan wabah COVID di daerah pedesaan yang sistem perawatan kesehatannya masih kurang berkembang.

Presiden Xi Jinping telah menyerukan upaya untuk meningkatkan perawatan medis bagi kalangan yang paling rentan terhadap virus corona baru di daerah pedesaan.

Xi juga meminta tindakan yang lebih ketat dilakukan untuk mencegah klaster infeksi di panti wreda dan fasilitas-fasilitas perawatan untuk melindungi orang tua.

Tahun ini merupakan periode liburan Tahun Baru Imlek pertama dalam empat tahun tanpa pembatasan pergerakan orang.

Sekitar 2,1 miliar perjalanan domestik diantisipasi berlangsung selama 40 hari hingga 15 Februari di tengah kesibukan Festival Musim Semi.

Angka itu hampir dua kali lipat dari jumlah perjalanan domestik pada musim yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, sejumlah besar orang dari China diperkirakan akan melakukan perjalanan ke Asia Tenggara selama liburan setelah Beijing membuka kembali perbatasannya dan mencabut kewajiban karantina pada awal Januari, yang sepenuhnya berbeda dari kebijakan ketat "nol-COVID".

Thailand, Singapura, dan Malaysia adalah beberapa negara tujuan populer bagi wisatawan China.

Reservasi tujuan ke negara-negara Asia Tenggara itu melonjak lebih dari 10 kali lipat dari tahun lalu, menurut data  perusahaan perjalanan daring China, Trip.com Group Ltd.

Seorang pejabat perusahaan itu mengatakan bahwa para pelancong memilih negara-negara dengan kebijakan imigrasi yang "ramah" bagi warga China.

Jepang dulu mendapat banyak kunjungan dari wisatawan China sebelum pandemi.

Namun, jumlah wisatawan dari China turun 99 persen dibandingkan dengan sebelum pandemi pada 2019 dan pemulihan pariwisata akan memakan waktu lebih lama, kata seorang pejabat industri perjalanan Jepang.

Jepang telah memperketat kontrol perbatasannya bagi para pengunjung dari China di tengah lonjakan kasus COVID di negara itu.

Saat ini, pengunjung dari China daratan diharuskan menunjukkan bukti hasil tes COVID-19 negatif yang dilakukan dalam waktu 72 jam setelah keberangkatan.

Selain itu, semua pengunjung dari China daratan dan mereka yang telah mengunjungi negara itu dalam waktu tujuh hari sekarang diharuskan untuk menjalani tes antigen PCR atau tes lain dengan sensitivitas tinggi setibanya di Jepang,

Sebelumnya, mereka yang datang dari China hanya harus menjalani tes antigen sederhana.

Peraturan Jepang itu mendorong Beijing pada awal bulan ini untuk mulai menangguhkan penerbitan visa bagi warga Jepang sebagai tindakan balasan.

China juga mengatakan akan kembali mengizinkan tur kelompok wisatawan ke 20 negara pada Februari, tetapi Jepang tidak termasuk di antara negara tujuan. 

Di bawah langkah-langkah antivirus ketat yang dipertahankan hingga Desember 2022 di China, orang-orang diharuskan untuk menunjukkan hasil tes negatif COVID-19 pada aplikasi ponsel.

Selain itu, catatan perjalanan pada aplikasi lainnya sering kali diperlukan untuk menggunakan transportasi umum serta memasuki pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran.

Otoritas kesehatan China mengatakan pada awal pekan ini bahwa kasus baru COVID di negara itu telah mencapai masa puncaknya. Jumlah kasus parah dan pasien dengan demam tinggi disebutkan menurun. 


Sumber: Kyodo-OANA

Baca juga: Perfilman China raup Rp1,1 triliun di pekan pertama liburan Imlek

Baca juga: Jutaan pekerja urban lintasi China menjelang Hari Raya Imlek


 

Pemprov Bali menargetkan 4,5 juta kunjungan wisatawan mancanegara

Penerjemah: Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Tia Mutiasari
Copyright © ANTARA 2023