Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode April 2023 berpeluang meningkatkan investasi yang masuk ke dalam negeri.

”Kenaikan PMI meningkatkan ekspektasi positif pelaku usaha atas kondisi ekonomi Indonesia, sehingga berpeluang dalam menarik investasi baru ke dalam negeri,” kata Airlangga dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.

Sebelumnya S&P merilis data yang menunjukkan bahwa PMI Manufaktur Indonesia berada pada level ekspansif di April 2023 yakni sebesar 52,7 atau naik dari posisi bulan lalu yang sebesar 51,9.

PMI Manufaktur Indonesia pada April 2023 merupakan level tertinggi sejak September 2022.

Di samping Indonesia, kinerja PMI negara-negara ASEAN cukup bervariasi, beberapa diantaranya berada di posisi ekspansif, seperti Thailand yang sebesar 60,4, Myanmar 57,4, dan Filipina 51,4.

Di sisi lain, PMI Manufaktur Malaysia masih berada di zona kontraktif atau di bawah 5, yakni sebesar 48,8.

Menurut Airlangga, perusahaan manufaktur Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam output produksi, order baru, serta aktivitas pembelian.

Di saat yang sama, penciptaan lapangan kerja juga mencapai tingkat paling tinggi dalam lima bulan terakhir.

Secara umum, ekspektasi perusahaan manufaktur ke depan bertahan di level positif, dan menunjukkan tingkat optimisme bisnis paling kuat sejak November 2022.

Meski ekonomi global masih dalam tren melemah, aktivitas manufaktur Indonesia terus melaju ditopang oleh aktivitas ekonomi yang menggeliat dan permintaan dalam negeri yang terus tumbuh kuat.

“Alhasil, kita terus melihat bahwa berbagai aspek penting penggerak ekonomi terus berada pada jalur yang tepat mendukung pertumbuhan ekonomi yang tangguh,” pungkasnya.

Baca juga: Menko Airlangga: Stabilitas politik Indonesia dapat tarik investasi
Baca juga: Airlangga minta investor tetap yakin berinvestasi di tahun politik
Baca juga: Airlangga: Target investasi 2024 capai Rp1.650 triliun


Pewarta: Sanya Dinda Susanti
Editor: Guido Merung
Copyright © ANTARA 2023