Medan (Antara News) - Dinas Kesehatan Kota Medan, Sumatera Utara, mengimbau masyarakat untuk mewaspadai menjangkitnya penyakit demam berdarah dengue (DBD) seiring cuaca yang tidak menentu belakangan ini.

Kabid Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan Kota Medan drg Irma Suryani di Medan Senin mengatakan menghadapi tahun 2013 ini, mulai terjadi musim penghujan dan musim panas sehingga cuaca yang tidak menentu ini harus diwaspadai karena bisa memicu penyebaran DBD.

"Dengan adanya musim hujan dan panas ini, menyebabkan berkembangbiaknya jentik nyamuk penyebab DBD, dan ini harus diwaspadai," katanya.

Tidak hanya penyakit DBD yang harus diwaspadai masyarakat, menurut Irma penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) juga harus diwaspadai terlebih di bulan Maret yang diprediksikan terjadinya musim panas.

"Berdasarkan prediksi bulan Maret nanti terjadi musim panas dan ini dapat menyebabkan daya tahan tubuh menurun, karena kurang minum yang menyebabkan dehidrasi. Bila daya tahan tubuh terus berkurang, dengan cuaca panas dapat menyebabkan batuk yang juga bisa menyebabkan terjadinya ISPA," katanya.

Untuk itu, ia menyarankan agar masyarakat agr tetap meningkatkan pola hidup bersih dan sehat. Juga melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan melakukan 3 M atau menutup, menguras dan mengubur barang-barang yang tidak dipergunakan.

Sementara penanggungjawab program P2BD Dinas Kesehatan Sumut Teguh Supriyadi, mengatakan tahun 2012 lalu kasus DBD di Sumut cenderung mengalami penurunan dibanding tahun 2011.

"Tahun 2011 jumlah kasus DBD di 33 kabupaten/kota di Sumut sebanyak 6.032 dengan 85 orang meninggal. Sementara tahun 2012, jumlah kasusnya 3.589 dengan 30 orang meninggal," katanya.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan kasus DBD, yaitu secara alami memang turun setelah puncaknya tahun 2010, dengan kasus 8889 dan 103 orang meninggal.

Disamping itu, faktor penurunan kasus karena adanya penguatan pencegahan penularan berbasis masyarakat pada wilayah epidemi tinggi seperti di Kabupaten Pematang Siantar dan Medan.

"Faktor penurunan ketiga, respon cepat terhadap mengatasi masalah penyebaran penyakit di lapangan oleh kabupaten/kota," katanya.

(*)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2013