Sungai Raya, Kalbar (ANTARA News) - Bangkrutnya Maskapai Batavia Air, telah menyisakan beberapa piutang kepada pengelola Bandara Supadio Pontianak, kata Kepala Dinas Operasi PT Angkasa Pura II Cabang setempat, Syarif Usmulyani.

"Sejak bangkrutnya Batavia Air, berdampak sangat signifikan terhadap dunia penerbangan di Kalimantan Barat. Selain berimbas kepada penumpang, juga pada Angkasa Pura sendiri," kata Syarif Usmulyani di Sungai Raya, Kamis.

Bentuk kerugian yang dialami penumpang, kata Usmulyani, seperti banyaknya pengguna jasa penerbangan yang sebelumnya sudah mendapatkan kepastian keberangkatan pada rute yang mereka tuju, namun batal dan masih banyak yang belum mendapatkan kepastian.

Sementara itu, untuk Angkasa Pura sendiri, Batavia Air meninggalkan beberapa piutang yang belum terbayarkan yang jumlahnya cukup besar, katanya.

"Itu tentu menjadi permasalahan yang harus diselesaikan agar tidak mengganggu operasional penerbangan di Supadio," katanya.

Belum lagi kerugian yang dialami oleh banyak agen perjalanan yang ada di Kalimantan Barat, dimana mereka telah mendepositkan dana mereka untuk memesan tiket dengan jumlah yang cukup besar hingga ratusan juta rupiah, namun dengan adanya hal ini dana mereka tertahan.

Usmulyani menambahkan, permasalahan lain yang dihadapi oleh pelaku usaha di Kalbar, yakni banyaknya produk mereka yang tidak terangkut oleh maskapai penerbangan lainnya.

"Selama ini, Batavia Air memiliki kapasitas angkut lima ton per hari. Namun, karena di tutup, banyak barang dan produk masyarakat Kalbar yang tidak bisa terangkut," katanya.

Untuk itu, pihaknya mengharapkan pemerintah bisa cepat mengambil langkah agar masalah ini tidak berlarut-larut.

"Kasihan masyarakat kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut. Harus ada langkah konkret untuk mengatasi permasalahan itu," katanya.
(A057)

Editor: Desy Saputra
Copyright © ANTARA 2013