Jakarta (ANTARA) - Anggota DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengakui kemampuan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mampu membuat briket arang dari batok kelapa di Desa Guyung, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

“Salah satu bentuk kecerdasan dan kehebatan masyarakat Desa Guyung, di sini punya UMKM Sumber Arang Makmur binaan kepala desa yang bisa menyulap batok kelapa jadi arang atau briket,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan briket arang adalah salah satu energi alternatif atau terbarukan yang dapat digunakan untuk menghemat pemakaian bahan bakar minyak.

Ia mengatakan briket arang merupakan hasil modifikasi dan inovasi dari arang kayu. Biasanya banyak terbuat dari bahan dasar kayu, tetapi masyarakat di Desa Guyung, Ngawi, Jawa Timur bisa memproduksi briket dari dasar batok kelapa.

"UMKM yang mampu membuka lapangan pekerjaan untuk warga desa ini memproduksi hingga 2 kuintal arang per hari," ungkapnya.

Baca juga: Edhie Baskoro: Pidato Ketua Umum Demokrat murni aspirasi rakyat
Baca juga: Anggota DPR bantu pengembangan UMKM


Dalam kunjungannya di daerah itu, Ibas terlibat langsung mencoba proses pencetakan dan pemotongan arang. Menurut dia, pembuatan arang batok kelapa memiliki proses yang cukup panjang.

"Kami mendukung penuh agar UMKM daerah terus tumbuh dan membantu perekonomian masyarakat sekitar," katanya.

Briket arang yang diproduksi UMKM Makmur dibanderol seharga Rp4.000 per kilogram. Sementara, pemasaran dan penjualan masih di sekitar wilayah Desa Guyung. Akan tetapi, Ibas berharap jika suatu saat produksi arang batok kelapa dari Desa Guyung dapat merambah hingga ke luar negeri.

“Kamu ingin arang dari batok kelapa bisa jadi komoditas ekspor ke luar negeri. Saat ini, arang batok kelapa dari Indonesia sudah sampai Prancis, Belgia, Belanda, dan Korea Selatan," ungkapnya.

Pemilik UMKM Sumber Arang Makmur Heri Siswanto menuturkan saat ini usaha arang batok kelapa masih terkendala bahan baku dan pemasaran. Ketersediaan batok kelapa di wilayah Desa Guyung masih sulit ditemui. Selain itu, pemasaran produk belum maksimal hingga ke luar daerah karena minimnya alat produksi.

Pewarta: Fauzi
Editor: Herry Soebanto
Copyright © ANTARA 2023