Washington (ANTARA) - Pejabat Amerika Serikat akan bertemu dengan perwakilan Taliban serta profesional teknokrat dari sejumlah kementerian kunci Afghanistan selama kunjungan ke Doha minggu ini, kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan.

"Masalah prioritas akan mencakup dukungan kemanusiaan bagi rakyat Afghanistan, stabilisasi ekonomi, perlakuan yang adil dan bermartabat bagi semua warga Afghanistan--termasuk perempuan dan anak perempuan--masalah keamanan, dan upaya untuk melawan produksi dan perdagangan narkotika," kata Departemen Luar Negeri AS.

Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 15 Agustus 2021, ketika pejabat pemerintah Kabul yang didukung AS melarikan diri dari negara itu dan pasukan asing mundur.

Sejak saat itu, AS masih tidak mengakui pemerintahan Taliban dan menjatuhkan sanksi terhadap kelompok tersebut.

Ketiga ditanya mengenai rencana pertemuan dengan Taliban, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Vedant Patel menegaskan bahwa pertemuan itu tidak menunjukkan perubahan dalam kebijakan AS.

"Kami telah menegaskan bahwa kami akan terlibat dengan Taliban ketika ada kepentingan kami untuk melakukannya. Ini tidak bertujuan untuk menunjukkan indikasi pengakuan atau normalisasi atau legitimasi terhadap Taliban," tutur Patel.

Lebih lanjut dia menyebut bahwa AS semakin khawatir atas kemunduran yang terjadi di Afghanistan, termasuk dengan adanya pelanggaran hak asasi manusia terhadap perempuan dan anak perempuan.

"Semua isu itu dan banyak lainnya terus menjadi perhatian besar bagi Amerika Serikat," ujar Patel.

Perwakilan Khusus AS untuk Afghanistan Thomas West dan Utusan Khusus AS untuk Perempuan, Anak Perempuan, dan Hak Asasi Manusia Afghanistan Rina Amiri, akan melakukan perjalanan ke Astana, Kazakhstan dan Doha, Qatar pada 26 - 31 Juli 2023.

Di Astana, mereka akan bertemu mitra-mitranya dari Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan untuk Sesi Khusus C5+1 tentang Afghanistan serta anggota masyarakat sipil yang berfokus pada peningkatan pemberdayaan ekonomi perempuan di Afghanistan dan Kazakhstan.

C5+1 adalah platform dialog utama AS dengan negara-negara kawasan.

C5+1, yang meliputi Kazakhstan, Kyrgyztan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan, dibentuk di bawah mantan Presiden AS Barack Obama selama Majelis Umum PBB 2015.


Sumber: Anadolu

Baca juga: Taliban rayakan satu tahun kemenangan Afghanistan atas AS
Baca juga: Taliban resmi larang staf perempuan bantuan kemanusiaan untuk bekerja
Baca juga: PBB: Tak mungkin mengakui Taliban selama hak perempuan masih dibatasi

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2023