Kapal-kapal pengawas maritim itu terlihat di zona 12-mil laut di lepas pantai Kepulauan Senkaku, yang disebut China Diaoyu...
Tokyo (ANTARA News) - Tiga kapal pemerintah China masih berada di perairan kepulauan sengketa yang dikendalikan Tokyo, selama hampir 12 jam pada Senin, kata penjaga pantai Jepang.

"Kapal-kapal pengawas maritim itu terlihat di zona 12-mil laut di lepas pantai Kepulauan Senkaku, yang disebut China Diaoyu, di Laut China Timur tak lama setelah pukul 09.00 waktu setempat. Mereka meninggalkan zona itu sesaat sebelum pukul 21.00," kata penjaga pantai.

Ini adalah episode terbaru dalam beberapa bulan yang telah terlihat berulang kali di antara kapal-kapal resmi dari kedua pihak saat mereka bersengketa atas kepemilikan pulau-pulau strategis, penting dan kaya sumber daya alam itu.

Dalam insiden maritim terpisah di Laut China Timur, satu kapal selam asing terlihat berlayar di bawah air di dekat Kume, salah satu pulau Okinawa Jepang, dari Minggu malam sampai Senin pagi, kata Kementerian Pertahanan.

Kapal selam itu diduga milik China, kata media Jepang. Demikian diberitakan AFP.

Kapal itu berlayar dekat wilayah perairan 12 mil laut dari Kume, dan mengkhawatirkan para pejabat Jepang, meskipun tidak melanggar hukum internasional.

"Situasi ini membutuhkan perhatian," kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga dalam konferensi pers rutin. Dia mencatat bahwa kapal selam asing juga terlihat pada 2 Mei di dekat pulau Jepang Amami di pinggiran Laut China Timur.

Menteri Pertahanan Itsunori Onodera mengatakan pasukan bela diri akan menuntut bahwa kapal selam yang terlihat dalam insiden terbaru itu harus muncul ke permukaan dan menunjukkan bendera kebangsaannya jika memasuki wilayah perairan Jepang.

Ditanya tentang tiga kapal China, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jenderal Psaki mengatakan Washington tidak mengambil posisi mengenai "masalah utama kedaulatan atas pulau-pulau itu".

"Kami mendesak semua pihak untuk menghindari tindakan yang bisa meningkatkan ketegangan atau mengakibatkan salah perhitungan yang akan merusak perdamaian, keamanan dan pertumbuhan ekonomi di bagian penting dari dunia ini," katanya.

Sengketa teritorial meningkat pada September ketika Tokyo menasionalisasi tiga pulau pada rantai kepulauan itu, dalam apa yang disebutnya perubahan administratif kepemilikan belaka.

Langkah Tokyo membuat marah dan menimbulkan demonstrasi anti-Jepang di China, yang telah secara intensif mengklaim bahwa kepulauan itu seharusnya "dikembalikan" ke dalam penyelesaian yang dibuat oleh Tokyo pada pasca-Perang Dunia II.

Dalam salah satu insiden lebih intens, kapal perang China mengunci radar yang menargetkan senjata mereka pada kapal perusak Jepang, dan menantang pesawat tempur yang telah saling membayangi satu sama lain pada berbagai kesempatan di tengah peringatan hal itu bisa menyebabkan konfrontasi militer.

Pada akhir April, delapan kapal pemerintah China berlayar ke perairan yang disengketakan dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berjanji ia akan "mengusir secara paksa" setiap pendaratan China di kepulauan itu.

(H-AK)

Editor: Ella Syafputri
Copyright © ANTARA 2013