Baghdad (ANTARA News) - Kementerian Pertahanan Irak, Sabtu (1/6), menyatakan personelnya telah menggerebek satu jaringan Al Qaida yang diduga telah berusaha memproduksi gas beracun untuk melancarkan serangan kimia di dalam dan luar negeri.

Agen dinas rahasia militer Irak menangkap lima orang yang diduga sebagai anggota jaringan tersebut setelah mengawasi mereka selama tiga bulan, kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Mohammed Al-Askari dalam satu taklimat.

Kelompok itu membangun dua instalasi di Baghdad dan yang ketiga di satu provinsi yang tidak diungkapkan untuk memproduksi sarin dan gas mustard untuk membuat senjata kimia, kata Al-Askari.

Menurut pengakuan mereka, kelima orang tersebut telah berencana menggunakan agen kimia di dalam Irak, dan mereka juga memiliki jaringan untuk mengangkutnya ke dalam negara yang bertetangga, Eropa dan Amerika Utara, demikian laporan Xinhua.

Empat tersangka, yang mengenakan penutup kepala, hadir dalam taklimat itu. Alat dan bahan yang diduga digunakan untuk membuat senjata kimia juga diperlihatkan kepada wartawan.

Front Al Qaida di Irak bertanggung-jawab atas kebanyakan serangan besar di negeri tersebut, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa kelompok semacam itu dan milisi lain dapat kembali untuk melancarkan serangan berskala luas.

Pada Kamis (30/5), utusan PBB di Irak menyampaikan kecemasannya sehubungan dengan gelombang serangan baru di negara Timur Tengah itu, sehingga menewaskan 38 orang dan melukai 91 orang lagi, kata Wakil Juru Bicara PBB Eduardo del Buey kepada wartawan.

"Martin Kobler, Wakil Khusus Sekretaris Jenderal untuk Irak, menyampaikan kecemasannya dengan jumlah korban jiwa yang mengerikan setelah gelombang serangan baru terhadap warga sipil yang tak berdosa, terutama yang ditujukan pada Baghdad," kata del Buey dalam taklimat harian di Markas PBB, New York.

Sebanyak 15 orang tewas dan 65 orang lagi cedera dalam penembakan dan serangan bom, termasuk tujuh pemboman mobil, di seluruh Irak pada Kamis, kata polisi setempat.

Serangan pada Kamis adalah bagian dari gelombang serangan bom hampir setiap hari di Baghdad dan beberapa kota besar Irak sehingga menewaskan dan melukai ratusan orang lagi.

Di Ibu Kota Irak, Baghdad, lima bom mobil dan dua bom pinggir jalan menggetarkan seluruh ibu kota Irak tersebut dan menewaskan tak kurang dari sembilan orang serta melukai sebanyak 52 orang.

Pada Rabu (29/5), pemboman dan bentrokan di negeri itu menewaskan tak kurang dari 26 orang dan melukai sebanyak 80 orang.

Kerusuhan masih sering terjadi di kota besar Irak kendati terjadi penurunan dramatis sejak puncaknya pada 2006 dan 2007, saat negeri tersebut terjerumus ke dalam pembunuhan sektarian.

Editor: Desy Saputra
Copyright © ANTARA 2013