Mungkin sedikit banyak akan ada pengaruhnya ke investasi, tapi harus melihat pertumbuhan ekonomi dari semua komponen. Porsi yang paling besar adalah konsumsi rumah tangga,"
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Keuangan Chatib Basri menilai kemungkinan penurunan investasi yang disebabkan kenaikan suku bunga Bank Indonesia tidak berpengaruh banyak terhadap pertumbuhan ekonomi karena porsi yang paling besar adalah konsumsi rumah tangga.

"Mungkin sedikit banyak akan ada pengaruhnya ke investasi, tapi harus melihat pertumbuhan ekonomi dari semua komponen. Porsi yang paling besar adalah konsumsi rumah tangga," kata Chatib di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat.

Chatib menyebutkan porsi konsumsi rumah tangga mencapai 55 persen, sedangkan investasi hanya sekitar 25 persen.

Menurut dia, ekspektasi kenaikkan suku bunga BI, yakni inflasi bisa diredam, sehingga lajunya tidak terlalu tinggi, sementara daya beli tetap tinggi.

"Kalau daya belinya bisa tinggi, pertumbuhannya akan tetap tinggi karena konsumsi rumah tangga masih tetap terjaga," katanya.

Dia menjelaskan naiknya daya beli masyarakat akan mendorong pertumbuhan ekonomi, meski investasi sedikit melambat.

"Tapi, saya kira 50 basis poin relatif cukup," katanya.

Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) sebesar 50 basis poin menjadi 6,5 persen dari posisi sebelumnya 6 persen 11 Juli lalu dengan prakiraan inflasi akhir tahun sebesar inflasi sampai akhir tahun sebesar 7,2--7,8 persen.

Suku bunga deposit facility naik 50 basis poin menjadi 4,75 persen dari sebelumnya 4,25 persen dan suku bunga lending facility tetap sebesar 6,75 persen.

Karena itu, Chatib mengimbau harus ada koordinasi antara BI, Kementerian Perdagangan terkait pangan dan Kementerian Perhubungan terkait transportasi.

"Tidak bisa Pak Agus sendiri, Pak Gita juga harus menjamin impor pangan dan Kemenhub kaitannya dengan transportasi. Jadi harus diatur," katanya.

Sebelumnya, Kemendag telah menyatakan akan mengimpor sejumlah bahan pangan pokok untuk menyeimbangi ketersediaan dan permintaan di musim keagaamaan Ramadhan, Idul Fitri yang dilanjutkan dengan Natal dan Tahun Baru dan meredam inflasi akibat kenaikan BBM bersubsidi.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan akan mengimpor beberapa komoditi seperti, cabai rawit sebanyak 9.715 ton dan bawang merah 16.781 ton untuk semester kedua mulai Juli hingga Desember 2013.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Radjasa juga telah menugasi Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk mengintervensi pasar dan menampung impor daging sapi melalui pesawat terbang yang dialokasikan sebanyak 3.000 ton.
(J010/R010)

Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2013