bukan berapa kilometer jalan yang dibangun, tapi manusianya itu berkualitas atau tidak
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri menyatakan bahwa tujuan pembangunan itu ujung-ujungnya adalah untuk meningkatkan kualitas manusia, bukan berapa kilometer jalan yang dibangun.

“Pembangunan itu kan ujung-ujungnya adalah meningkatkan kualitas manusia, bukan berapa kilometer jalan yang dibangun, tapi manusianya itu berkualitas (atau) tidak,” kata Faisal Basri dalam Diskusi Publik: Tanggapan Atas Debat Kelima Pilpres yang dipantau secara virtual di Jakarta, Senin.

Berdasarkan World Population Prospect yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), penduduk Indonesia memiliki angka harapan hidup selama 68,25 tahun pada 2022.

Jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, posisi Indonesia berada di peringkat kedua terbawah atau hanya lebih tinggi dari Myanmar yang sebesar 67,26 tahun.

Baca juga: Indef nilai pertumbuhan ekonomi RI sepanjang 2023 belum maksimal

Baca juga: Indef sebut tiga isu harus muncul dalam debat terakhir Pilpres 2024


Menurut dia, salah satu indikator yang menandakan adanya peningkatan kualitas manusia ialah tingkat harapan hidup lebih panjang. Namun, hal itu dinilai tidak terwujudkan sepanjang pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Faisal juga menganggap bahwa bantuan sosial (bansos) belum dijadikan mekanisme terpadu di dalam pengelolaan ekonomi menjadi jaring pengaman sosial (social safety net).

Pada tahun ini, pemerintah menggelontorkan anggaran perlindungan sosial sebesar Rp496,8 triliun atau hampir setara dengan masa saat pandemi COVID-19 pada tahun 2020 senilai Rp498 triliun.

Selain itu, angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 yang sebesar Rp468,2 triliun, Rp460,6 triliun pada 2022, dan Rp443,5 triliun pada 2023.

Seharusnya, lanjut Faisal, dengan adanya peningkatan anggaran bansos, maka dapat meningkatkan angka harapan hidup manusia di Indonesia. Namun, mengingat bansos tidak menjadi mekanisme terpadu dalam pengelolaan ekonomi, angka harapan hidup di tanah air dianggap masih tergolong rendah.

“Bansos itu tidak temporer, (bukan hanya saat) pemilu saja,” ungkap dia.

Baca juga: Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dipengaruhi daya pikir dan teknologi

Baca juga: Ekonom sebut pendidikan perlu perkuat keterampilan dasar


Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2024