Ini menjadi contoh bagi kabupaten/kota lain di Indonesia, dan patut kita apresiasi bersama atas kepedulian Pemkab Solok Selatan di bidang kesehatan
Solok (ANTARA) - Koordinator Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) wilayah Sumatera Barat, Riau, dan Kepri Harnavi Harun mengatakan Pemerintah Kabupaten Solok Selatan Sumatera Barat merupakan Kabupaten pertama di Indonesia yang menyediakan kendaraan operasional cuci darah.

"Ini menjadi contoh bagi kabupaten/kota lain di Indonesia, dan patut kita apresiasi bersama atas kepedulian Pemkab Solok Selatan di bidang kesehatan," katanya di Padang Aro Sumbar, Minggu.

Dia menjelaskan, Solok Selatan menjadi Kabupaten pertama di Indonesia yang digandeng PERNEFRI dan juga Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI) dalam peringatan Hari Ginjal Sedunia.

Dia berharap, peringatan hari ginjal sedunia ini menjadikan masyarakat peduli akan kesehatan ginjal, dan mempersiapkan generasi yang sehat dalam memimpin bangsa ini ke depan.

Bupati Solok Selatan Khairunas menegaskan komitmen kabupaten itu untuk terus berupaya meningkatkan berbagai fasilitas kesehatan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat, seperti halnya fasilitas-fasilitas pada RSUD dan puskesmas-puskesmas yang ada.

Pelayanan cuci darah di RSUD Solok Selatan dilakukan dari Senin-Sabtu dengan alat cuci darah tersedia 15 unit.

Layanan antar jemput pasien cuci darah untuk Senin dan Kamis pasien yang dijemput yaitu di batas Kabupaten Solok di Ulu Suliti, sedangkan Selasa dan Jumat dijemput pasien dari RSUD Batang Sangir di Lubuk Malako.

Sedangkan untuk pelayanan pada Rabu dan Sabtu diperuntukkan bagi pasien yang berasal dari Jambi dan daerah sekitar RSUD Solsel.

Pasien dari Sangir Batang Hari, Sangir Jujuan, dan Sangir Balai Janggo dijemput di titik kumpul RSUD Batang Sangir.

Sementara untuk pasien asal Solok (Kecamatan Pantai Cermin dan sekitarnya) serta daerah di Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh yang berbatasan dengan Solok titik kumpul di Ulu Suliti.

Kepala Ruangan (Karu) Unit Hemodialisa, Satria Ahda mengatakan, sampai Maret 2024 tercatat 65 orang pasien Hemodialisa yang berasal dari empat kabupaten/kota dan dari dua provinsi, Sumbar dan Jambi.

Dia mengatakan, terjadi peningkatan jumlah pasien dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sekitar 50 orang.

Melihat grafik sejak 2021, jumlah pasien yang melakukan cuci darah di RSUD Solok Selatan di mana pada 2021 tercatat layanan sekitar 30 orang, 2022 sekitar 45 orang, dan tahun 2023 sekitar 50 orang.

"Pesatnya perkembangan layanan di unit Hemodialisa RSUD Solsel seiring dengan peningkatan pelayanan terhadap pasien," katanya.

Pewarta: Rahmatul Laila
Editor: M. Tohamaksun
Copyright © ANTARA 2024