Magelang (ANTARA News) - Kata "disiplin" tampaknya layak dilekatkan untuk maestro musik Indonesia, Idris Sardi yang meninggal dunia di Rumah Sakit Meilia Cibubur pada Senin (28/4) pukul 07.25 WIB dalam usia 76 tahun.

Budayawan Sutanto Mendut (60) melekatkan kata "disiplin" terhadap Idris Sardi, saat pertemuan para komponis Indonesia di Concert Hall Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, 17 Agustus 2013.

Saat itu, bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-75 maestro pemikir musik Indonesia, Suka Hardjana, Idris Sardi juga termasuk salah satu yang hadir.

Pergulatan Idris Sardi dalam jagat musik Indonesia melalui disiplin violin itulah, agaknya menjadi bagian yang diteladani Sutanto Mendut.

Tanto mengejawantahkan inspirasi disiplin violin Idris Sardi, menjadi pergulatan sekitar 20 tahun terakhir bersama kalangan petani desa-desa di kawasan lima gunung di Kabupaten Magelang.

Mereka yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) diajaknya untuk bertekun dan disiplin mengelola kesenian, tradisi, dan budaya dusun masing-masing, sebagai bagian menyuburkan kearifan lokal untuk kehidupan sehari-hari masyarakat.

"Idris Sardi, maestro instrumental yang menimba Barat lewat disiplin violin," katanya.

Selain itu, katanya, Idris Sardi juga secara serius menggarap komposisi musik untuk sejumlah film sehingga karya-karyanya itu tetapi populer.

Idris Sardi pernah belajar musik di Yogyakarta, sebelum Sutanto Mendut juga pernah mengenyam pendidikan musik di tempat yang dulu bernama Akademi Musik Indonesia (AMI) Yogyakarta itu. Sekarang AMI berubah menjadi ISI Yogyakarta.

Bakat musik Idris Sardi yang lahir pada 7 Juni 1938 itu, rupanya berkembang karena bapaknya M. Sardi yang pemain biola untuk orkes di Radio Republik Indonesia Studio Jakarta.

Pada usia enam tahun, ia sudah mengenal alat musik itu yang kemudian sebutannya dikoreksi oleh Suka Hardjana, sebagai "violin".

Saat muncul pertama kali dengan violin di Yogyakarta pada 1949, Idris Sardi mendapat sambutan hangat publik. Pada usia 16 tahun, dia menggantikan posisi bapaknya sebagai violis pertama di Orkes RRI Jakarta.

Melalui beberapa film, antara lain Pengantin Remaja (1971), Perkawinan (1973), Cinta Pertama (1974), dan Doea Tanda Mata (1985), Idris Sardi menyabet penghargaan Piala Citra untuk kategori Penata Musik Terbaik.

Idris Sardi berpulang setelah menghadapi komplikasi penyakit. Ia diketahui sempat menderita penyakit asam lambung dan lever.

Jenazahnya disemayamkan di Rumah Kreatif, Bumi Cimanggis Indah Blok B 1 Nomor 9, Jalan Pekapuran, Cimanggis, untuk kemudian rencananya pada Senin (28/4) pukul 15.00 WIB dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta Selatan.

Idris Sardi adalah ayah pemain film Santi Sardi dan aktor muda Lukman Sardi dari pernikahannya dengan Zerlita.

Dia menikah yang ketiga dengan Ratih Putri setelah bercerai dengan Marini.

Violis perempuan Indonesia, Maylaffayza Wiguna, adalah seorang muridnya yang sukses.

Suka Hardjana, saat ulang tahunnya ke-75 itu, menyampaikan testimoni yang antara lain ditujukan kepada Idris Sardi.

"Dia sahabat dan sekaligus keluarga saya. Mas Idris, sebenarnya juga cikal bakal sekolah musik ini (ISI Yogyakarta, red.). Dia menunjukkan kepada saya bagaimana memainkan violin," katanya.

Pada kesempatan itu, Suka Hardja menyebut violin, untuk sebutan yang tepat atas biola yang selama ini secara disiplin menjadi senjata Idris Sardi menjelajah dunia musik.

Kini, Idris Sardi menjelajahi alam abadi dengan seakan turut diiringi disiplin musik violin Sang Maestro itu.

"Idris Sardi, emosional bilang pribadi kepada saya, musik Indonesia kurang pemikir serius," kata Sutanto Mendut.

(U.M029/B/A041)

Oleh M. Hari Atmoko
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2014