Dubai (ANTARA News) - Arab Saudi Senin mengatakan bahwa campur tangan asing ditolak di Irak, setelah gerilyawan Islam menyita wilayah luas negara itu.

Dalam satu pernyataan kabinet yang diterbitkan oleh kantor berita resmi SPA, Riyadh menyalahkan krisis yang berlangsung selama bertahun-tahun kebijakan-kebijakan "sektarian dan eksklusif".

Hal ini juga mendesak "pembentukan cepat konsensus nasional pemerintah."

Sementara itu Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran, Ali Shamkhani, menolak dengan menyatakan "tidak realistis" laporan Barat tentang peluang kerjasama Iran-AS di Irak, yang dilanda krisis, dan menekankan Teheran akan mempertimbangkan membantu Baghdad jika resmi diminta.

"Laporan-laporan tersebut merupakan bagian dari perang psikologis Barat terhadap Iran dan benar-benar tidak sesuai dengan kenyataan," kata Shamkhani pada Ahad.

"Seperti yang telah kita diumumkan, kami akan memeriksa masalah membantu (Irak) dalam kerangka peraturan internasional dalam kasus permintaan resmi oleh pemerintah Irak, dan ini akan benar-benar satu proses bilateral dan tidak ada hubungannya dengan negara ketiga," tambahnya.

Shamkhani menggarisbawahi bahwa yang menyebabkan horor dan ketidakstabilan serta menghasut kampanye bersenjata dan kekerasan terhadap kehendak masyarakat, yang diwujudkan melalui pemilihan umum yang bebas dan adil, adalah salah satu tujuan AS di balik pembentukan kelompok teroris seperti yang disebut Negara Islam Irak dan Levant (ISIL).

Sekretaris SNSC mencatat bahwa sekutu AS tertentu memiliki kerjasama keuangan, intelijen dan logistik dengan Washington untuk menerapkan kebijakan tersebut.

Shamkhani meminta rakyat Irak, termasuk Syiah, Sunni dan Kurdi untuk tetap waspada terhadap plot oleh kekuatan asing dan membela negara mereka dengan memperkuat persatuan dan solidaritas mereka.

Pada 10 Juni, para gerilyawan ISIL menguasai Mosul, yang diikuti oleh jatuhnya Tikrit, yang terletak 140 kilometer baratlaut ibu kota, Baghdad. Ratusan ribu orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka sejak saat itu.

Para gerilyawan ISIL telah bersumpah untuk melanjutkan serangan mereka terhadap ibu kota, Baghdad. Demikian laporan Reuters.

(Uu.H-AK)

Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2014