Washington (ANTARA News) - Amerika Serikat memerintahkan keluarga diplomatnya di Liberia untuk meninggalkan negara itu dan melarang perjalanan yang tidak penting ke Afrika Barat karena menyebarnya wabah Ebola.

Sebuah pernyataan Departemen Luar Negeri mengatakan staf AS akan tetap aktif bertugas di kedutaan dan staf tambahan sedang dikirim untuk membantu pemerintah mengatasi wabah virus mematikan tersebut.

"Wabah tersebut telah membuat sistem kesehatan Liberia kewalahan dan sebagian besar fasilitas kesehatan kekurangan staf atau sumber daya untuk mengatasi penularan yang terus berlangsung," katanya seperti dikutip Reuters.

Personel tambahan AS yang ditugaskan ke Monrovia di antaranya 12 spesialis pencegahan penyakit dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention) dan 13 anggota tim bantuan bencana dari USAID untuk membantu pemerintah memerangi wabah, kata juru bicara Departemen Luar Negeri Marie Harf.

Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf mengumumkan keadaan darurat pada Rabu selama 90 hari ke depan yang memungkinkan pemerintah untuk membatasi hak-hak sipil dan menurunkan tentara serta polisi untuk memberlakukan karantina terhadap masyarakat.

Epidemi tersebut juga melanda Sierra Leone, Guinea dan Nigeria dan telah merenggut lebih dari 900 jiwa, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO), demikian Reuters.

Penerjemah:
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2014