85 persen sekolah terpapar iklan rokok

85 persen sekolah terpapar iklan rokok

Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Aceh Anti Rokok (APAR) membawa poster dan spanduk saat aksi memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Minggu (31/5/15). (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Jakarta (ANTARA News) - Sebanyak 85 persen sekolah yang diteliti oleh beberapa lembaga pemerhati anak dan remaja menunjukkan tempat tersebut terpapar iklan rokok di luar lingkungannya.

"85 persen iklan ada di tempat penjualan, seperti warung," kata tim peneliti dari Yayasan Pengembangan Media Anak Dr. Hendriyani saat pemaparan hasil pemantauan "Serangan Iklan Rokok di Sekitar Sekolah" di Jakarta, Senin (15/6).

YPMA bersama Lentera Anak Indonesia dan Smoke Free Agents melakukan penelitian terhadap 360 sekolah yakni di Jakarta (166 sekolah), Bandung (64), Padang (55), Mataram (26) dan Makassar (49) selama periode Januari-Maret 2015 mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

Dari sekolah yang mereka amati 32 persen iklan luar griya, seperti baliho, poster, spanduk maupun papan nama di halte, terlihat begitu siswa keluar dari gerbang sekolah.

Dalam salah satu sekolah yang mereka teliti di Makassar, terdapat sebuah sekolah yang terdapat papan iklan rokok di luar gerbang sekolah serta beberapa warung yang memajang iklan rokok.

"Pemajangan di beberapa tempat akan mempengaruhi pembelian spontan," kata pengajar Departemen Komunikasi Universitas Indonesia ini.

Sementara itu, 40 persen dari warung atau toko yang berada di luar sekolah terdapat iklan rokok yang melekat di papan nama atau spanduk toko tersebut.

Menurut data Komnas Anak dan Uhamka tahun 2007, 70 persen remaja mengaku mulai merokok karena terpengaruh iklan.

Sebesar 77 persen remaja mengatakan iklan membuat mereka terus merokok dan 57 persen berpendapat iklan mendorong mereka untuk kembali merokok setelah berhenti.

Hendriyani mengatakan kondisi tersebut mengkhawatirkan karena meski sekolah yang mereka pantau terdapat tulisan "bebas asap rokok", setiap hari siswa terpapar iklan tersebut.

"Di sekolah, anak menghabiskan waktu paling banyak selain di rumah," kata dia.

Peneliti merekomendasikan agar pemerintah lokal maupun nasional melarang secara total semua bentuk iklan, promosi dan sponsor dari rokok.

"Komunitas sekolah, seperti kepala sekolah, guru, siswa, dan komunitas di luar sekolah bergerak supaya lingkungan mereka bebas rokok," tutup Hendriyani.

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Merokok perberat gejala COVID-19 dan tingkatkan risiko kematian

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar