Kupang (ANTARA News) - Pengamat ekonomi Prof Dr Didik Junaedi Rachbini meminta Presiden RI Joko Widodo segera merombak tim ekonomi di Kabinet Kerja.

"Sudah saatnya tim ekonomi di kabinet dirombak Pak Presiden Jokowi, agar bisa kembali membangkitkan gairah pergerakan pertumbuhan ekonomi di negara ini," kata Didi Rachbini saat menjadi pembicara dalam panel diskusi yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Nusa Tenggara Timur di Kupang, Sabtu.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hingga Juni 2015 berada pada posisi 4,7 persen turun dari sebelumnya di tahun 2014 pada level 5,0 persen, dan menjadi yang terendah di antara sejumlah negara lain seperti China, Thailand dan India, merupakan ancaman serius dan diproyeksi akan terus tertinggal.

Hal sama juga terjadi pada kinerja ekspor dan impor yang juga terus anjlok di titik yang sangat memprihatinkan. Untuk nilai ekspor di tahun 2015 berada pada titik -0,5 persen, turun dari sebelumnya di 2014 pada level -0,8 persen.

Sementara untuk nilai impor, pada 2015 berada pada posisi -2,2 persen dari sebelumnya di 2014 silam pada angka -0,6 persen.

Dalam konteks nilai tukar rupaiah dan posisi cadangan devisa yang dimiliki, memang masih dalam toleransi, dimana cadangan devisa masih sangat tersedia untuk kepentingan menutup harga jnilai tukar rupaiah yang terus anjlok hingga berkisar di antara Rp12 ribu hingga Rp12.500/ dolar Amerika.

Dalam memandang kondisi tersebut, Presiden RI Joko Widodo sebagai pemimpin tertinggi di negara ini, harus segera melakukan pembenahan dan evaluasi terhadap maju mundurnya perkemebangan dan pertumbuhan ekonomi di negara ini.

Dengan kata lain, perlu ada perbaikan dari aspek visi ekonomi yang saat ini sedang diperan oleh sejumlah menteri-menteri di bidang ekonomi. "Harus sesegara mungkin dilakukan perombakan kabinet, khusus bidang ekonomi agar bisa kembali menggairahkan pasar," katanya.

Memang secara makro, semua data pertumbuhan ekonomi tersebut, bukan merupakan sebuah musibah besar. Namun demikian, ancaman ke arah itu sudah ditunjukan. Karenanya harus segera ada perbaikan.

"Angka pengangguran di Indonesia saja saat ini mencapai tujuh juta penduduk. Ini harus bisa segera diatasi, agar tidak mengganggu pertumbuhan lainnya," katanya.


Pewarta: Yohanes Adrianus
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2015