Ada Ketidakharmonisan Atas Ancaman Punahnya Curik Bali

Kuta, Bali (ANTARA News) - Di tengah-tengah ancaman burung Jalak (Curik) Bali punah di Taman Nasional Bali Barat (TNBB), para peneliti di Jurusan Biologi F-MIPA Universitas Udayana (Unud) Denpasar mengemukakan bahwa selain faktor pencurian, ada unsur lain yang ikut memberikan iuran bagi kondisi yang mengkhawatirkan itu. Unsur lain itu, adalah hubungan "kurang mesra" antara TNBB dengan desa-desa "enclave" di sekitarnya, padahal bila mampu dirangkul dan dioptimalkan perannya, masyarakat desa "enclave" dapat difungsikan seperti jagawana, sehingga ikut terlibat secara alami untuk menjaga kawasan dan isinya. Analisis itu dikemukakan dua peneliti Jurusan Biologi F-MIPA Unud, Sudaryanto dan Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni dalam semiloka bertema "Penyelamatan Curik Bali dan Habitatnya" yang berlangsung di Kuta, Bali, Kamis. "Kita melihat ada hubungan `kurang mesra` antara TNBB dengan masyarakat di sekitar desa, padahal kalau mampu dirangkul dengan baik, akan terjadi sinergi positif untuk menjaga kelestarian kawasan dan juga Curik Bali-nya sendiri," kata peneliti itu. Semiloka yang dibuka Dirjen PHKA (Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) Departemen Kehutanan (Dephut), Arman Mallolongan selama dua hari (15-16 Februari) itu menghadirkan para pemangku kepentingan yakni Dephut, TNBB, LIPI, sejumlah LSM seperti Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB ), Birdlife Indonesia, dan lembaga asing seperti JICA Yokohama, serta Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi). Menurut Sudaryanto, kondisi "saling curiga", antara TNBB dengan masyarakat desa-desa "enclave" hendaknya dapat diubah menjadi kekuatan sinergis, sehingga ikhtiar untuk membangun upaya pelestarian satwa endemik asal Bali itu bisa diwujudkan. "Sekarang ini masih ada suasana saling curiga itu, yakni TNBB curiga masyarakat akan mencuri Curik Bali, dan itu membuat hubungannya tidak mesra, tentu kondisi tersebut harus sesegara mungin diatasi," katanya. Dari penelitian yang dilakukan pada tahun 2001, Sudaryanto mengemukakan bahwa studinya menemukan tiga faktor utama penyebab turunnya populasi Curik Bali pertama karena pencurian, kedua: pencurian, dan ketiga juga pencurian. "Pencurian itu dapat terjadi antara lain karena kurang harmonisnya hubungan antara TNBB dengan masyarakat sekitar kawasan tersebut, khususnya dengan masyarakat Desa Sumberklampok, sehingga masyarakat kurang membantu pengamanan kawasan TNBB," katanya. Merujuk pada Bas van Balken (1997), kawasan Prapat Agung di TNBB, yang mempunyai daya dukung untuk 1.000 ekor Curik Bali, namun populasinya pada tahun 1992 di TNBB hanya berjumlah 53 ekor. "Bahkan pada sensus tahun 2001 di TNBB hanya ada enam ekor," katanya.(*)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2007

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar