TRAGEDI SALIM KANCIL - Cerita Tosan dikeroyok Tim 12

TRAGEDI SALIM KANCIL - Cerita Tosan dikeroyok Tim 12

Terdakwa yang juga Kepala Desa Selo Awar-Awar Lumajang, Hariyono (kedua kanan) mengikuti sidang perdana kasus dugaan pembunuhan aktivis lingkungan Salim Kancil di Pengadilan Negeri, Surabaya. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Tetapi atas pertolongan Allah, saya berhasil diselamatkan dengan cara pura-pura sudah meninggal
Surabaya (ANTARA News) - Saksi Tosan mengakui dikeroyok oleh Tim 12 pimpinan Kepala Desa Selok Awar-Awar Kecamatan Pasirian, Lumajang, Haryono. Pengakuan ini disampaikannya di Pengadilan Negeri Surabaya dalam kasus pembunuhan aktivis lingkungan Salim Kancil.

"Waktu itu, saya berada di rumah dan sempat dipukul batu di kepala saya oleh tim 12 pimpinan Kepala Kepala Desa Haryono. Saat dipukul saya langsung berusaha menyelamatkan diri dengan bersembunyi di bagian belakang rumah Santo, tetangga saya," ungkap Tosan saat memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis.

Ia mengemukakan, setelah berhasil menyelamatkan diri, selang satu jam kemudian dia bertanya kepada pemilik rumah dan diberitahu jika para pengeroyok sudah pergi meninggalkan rumahnya.

"Setelah itu, saya keluar dan ternyata para pengeroyok dari Tim 12 itu masih berada di belakang rumah. Saya kemudian kembali berlari menyelamatkan diri dengan meminjam sepeda angin milik seorang anak yang kebetulan lewat," beber Tosan.

Namun demikian, kata dia, belum sempat bersepeda jauh, lagi-lagi dia diserang para pengeroyok, mengingat pengeroyok menggunakan kendaraan bermotor.

"Saya langsung ditabrak, dibacok dengan menggunakan celurit dan juga dicangkul. Tetapi atas pertolongan Allah, saya berhasil diselamatkan dengan cara pura-pura sudah meninggal. Karena waktu itu dari kepala saya sudah mengucur deras darah akibat pukulan benda tumpul," tuturnya.

Dalam kondisi setengah sadar itu dia kemudian ditinggalkan oleh pengeroyoknya yang karena mengira Tosan sudah meninggal dunia.

"Saya kemudian pingsan dan saat mulai sadar, posisi saya sudah berada di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang," katanya dengan sesekali menggunakan logat Lumajang.

Ketika ditanya Hakim Efran Basuning terkait dengan penganiayaan yang menyebabkan rekannya Salim Kancil meninggal dunia, dia mengaku tidak mengetahui peristiwa itu.

"Untuk penganiayaan terhadap rekan saya Salim Kancil, saya tidak tahu. Namun, saya datang ke Pengadilan ini ingin memberikan keterangan yang sebenarnya terkait dengan peristiwa penambangan tersebut. Karena bumi Selok Awar-Awar sudah rusak akibat penambangan tersebut," tukasnya.

Kasus pembunuhan Salim Kancil dan penganiayaan Tosan terjadi Sabtu pagi 26 September 2015. Dua warga Desa Selok Awar-awar itu disiksa 30 orang yang mendukung penambangan pasir liar di Pantai Watu Pecak atau anak buah Kepala Desa Selok Awar-Awar yang kini menjadi tersangka.



Pewarta: Indra Setiawan
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Ajarkan anak mencintai budaya dan warisan daerah

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar