Sanaa (ANTARA News) - Setidak-tidaknya 16 anggota keluarga besar imam masjid di Yaman tewas pada Rabu akibat serangan udara sekutu Teluk di Yaman utara, tiga saksi.

Serangan pada Rabu itu bagian dari rangkaian gempuran persekutuan negara Teluk pimpinan Arab Saudi untuk memberi dukungan udara bagi Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi dalam pertempuran melawan kelompok Houthi.

Saksi --terdiri atas seorang sumber Reuters, seorang petugas kesehatan, dan seorang warga-- mengatakan bahwa sejumlah peluru kendali mengenai rumah imam Saleh Abu Zainah di kota Saada, provinsi Saada, yang juga daerah kubu bagi Houthi.

Sang imam bersama dua anak berserta keluarganya masing-masing tewas dalam serangan itu. Setidak-tidaknya empat anak-anak turut menjadi korban, kata saksi tersebut.

Juru bicara sekutu Teluk tidak menanggapi laporan itu.

"Serangan udara itu terjadi pada pagi hari. Karena rumah imam terbuat dari tanah, kami memerlukan waktu sampai sore hari untuk mengeluarkan mayat korban dari reruntuhan," kata Nayef, warga.

Sementara itu, petugas kesehatan mengaku khawatir akan munculnya serangan susulan karena masih banyak pesawat yang mengitari ruang udara sekitar.

Serangan sekutu Teluk pada Rabu adalah yang keempat menyasar warga sejak perundingan perdamaian Houthi dengan pemerintah berakhir dengan kegagalan pada bulan ini.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB pada 25 Agustus mendesak penyelidikan mandiri untuk mengumpulkan bukti dugaan pelanggaran hukum perang internasional dari koalisi Teluk.

Serangan udara sekutu Teluk bertanggung jawab atas 60 persen dari keseluruhan korban tewas dari pihak sipil sejak Maret 2015, kata laporan.

Setidak-tidaknya, 10.000 orang tewas dalam konflik di Yaman yang sudah berlangsung 18 bulan, kata PBB pada Selasa.

Pada Rabu, utusan PBB untuk Yaman mengatakan kepada Dewan keamanan PBB bahwa dia akan kembali menggelar konsultasi dengan semua pihak dalam konflik.

"Prioritas saya adalah kembali mendapatkan komitmen semua pihak untuk gencatan senjata terbatas. Eskalasi pertempuran telah menyebabkan banyak kematian warga sipil yang tragis dan tidak perlu," kata dia.

Pada 18 Agustus, organisasi Dokter Tanpa Batas (MSF) menarik semua staf mereka dari enam rumah sakit di kawasan utara Yaman, usai sebuah serangan udara mengenai fasilitas medis milik MSF dan menewaskan 19 orang.

Sekutu menyatakan penyesalan atas keputusan MSF tersebut dan mengaku tengah mengupayakan rapat darurat dengan MSF, demikian Reuters melaporkan.

(G005/B002)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2016