Suriname (Antara) - Sebagai rangkaian peringatan Kemerdekaan RI yang ke-72, KBRI Paramaribo menyelenggarakan pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Darmoko di gedung Sana Budaya Suriname pada 12 Agustus 2017. Pagelaran malam itu mengambil lakon Kresna Duta, dengan pesan khusus untuk menggugah kembali rasa kecintaan masyarakat Jawa Suriname atas budaya Jawa yang dibawa leluhur mereka dari Indonesia.

Saat ini, pertunjukan wayang sudah jarang ditemui di Suriname. Menurut Kasidi Kasiran dari Distrik Wanica, sekarang ini hanya tinggal satu orang dalang senior di Suriname yaitu Sapto Sopawiro, yang masih lumayan komplit penguasaan wayangnya. “Berbeda 15-20 tahun lalu, di mana setiap ada acara bersih desa hampir selalu dengan pertunjukan wayang kulit,” katanya.

Alunan suara suluk Ki Dalang Darmoko yang gandem marem mengundang kagum penonton yang hadir. Darmoko memang piawai, ia pernah jadi andalan mocopatan di Solo, bahkan sempat nembang mocopat di hadapan Presiden RI. Darmoko juga merupakan dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Jurusan Budaya Jawa.

Pertunjukan menjadi spesial karena Ki Dalang Sapto ikut hadir dalam pagelaran tersebut. Alhasil, dua dalang tersebut berkolaborasi dan joget bersama sambil melantunkan tembang Dandang Gula bersama punakawan Petruk.
 
Kedatangan Dalang Darmoko ke Suriname berbarengan dengan tim penelitian yang sedang melakukan studi pendirian rumah budaya Indonesia di Suriname. Anggota tim studi terdiri dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama-sama dengan Kementerian Luar Negeri, dengan mengikutsertakan Universitas Indonesia.

Rumah budaya nantinya akan menjadi pusat untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia di Suriname dan sekaligus memfasilitasi masyarakat antar kedua negara. Duta Besar Indonesia Supratikto berharap bahwa rumah budaya nantinya dapat membantu masyarakat Jawa Suriname untuk melestarikan budaya Jawa milik leluhurnya.

Pagelaran wayang malam itu berakhir dengan Tancap Kayon setelah Kresna memberitahukan kepada Dewi Kunti atas upaya meminta kembali Kerajaan Astina milik Pandawa. Kiranya itu menjadi awal proses untuk penguatan rasa kecintaan kembali budaya Jawa di Suriname.

 

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2017