Kutacane (ANTARA News) - Mayoritas warga di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, memasak lemang yang merupakan tradisi warisan Suku Alas ketika memperingati Maulid Nabi Muhammad Shallallahu`alaihi Wasallam 1439 Hijriah yang jatuh pada Jumat, (1/12).

Pantauan di sejumlah desa Aceh Tenggara, Kamis, terlihat sejumlah penduduk di daerah tersebut, sejak pagi hari mulai melakukan aktivitas menanak lemang sebagai penganan khas asli Indonesia ini.

"Kita bikin seperti ini, sebagai tiang penyangga untuk membakar lemang dengan menggunakan kayu kering," terang Suhardi Selian (44), penduduk di Babussalam.

Ia mengaku, kegiatan membakar penganan khas yang berada di dalam batang bambu tersebut memakan waktu paling cepat sekitar empat jam lamanya.

Seperti diketahui, lemang terbuat dari pulut atau ketan yang di campur dengan santan dan garam kemudian dilapisi daun pisang, serta dibakar menggunakan bambu.

Cara membakar lemang dengan posisi di bagian tengah bambu yang agak dimiringkan pada tiang penyangga. Agar masaknya rata, maka putar-putar bambu yang di bakar dengan kayu api.

"Bila kita beli di pajak (pasar), harga lemang ini Rp15 ribu untuk satu sambung. Cuma, tak enak kita rasa kalau tidak kita bakar sendiri," ucap Fatimah (42).

Radasah (61), anggota Badan Permusyawaratan Kute Perapat Sepakat menjelaskan, tradisi memasak lemang adalah demi menjaga adat Suku Alas yang dilakukan dua kali dalam setahun.

"Ini sudah kita lakukan sejak turun-temurun setiap memperingati Maulid Nabi, dan Idul Adha tiap tahun," tuturnya.

"Oran dahulu di wilayah Aceh Tsambung ini, bila malam hari peringatan maulid, maka lemang jadi santapan sambil dengarkan ceramah. Kalu Idul Adha, maka kita hidangkan kepada tamu yang datang," ujar Radasah.

Pewarta: Muhammad Said
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2017