IDAI minta media massa tidak beritakan imunisasi secara provokatif

IDAI minta media massa tidak beritakan imunisasi secara provokatif

Dokumentasi etugas meneteskan vaksin polio kepada balita di Pos Pelayanan Terpadu Desa Keude Aceh, Banda Sakti, Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (10/2/2018). Imunisasi anak dari Kementerian Kesehatan itu melengkapi program nasional imunisasi dasar lengkap secara gratis yaitu, vaksin Measles Rubella (MR), vaksin Pneumococcus, dan vaksin Human papillomavirus (HPV), untuk mencegah anak dari berbagai penyakit terutama polio dan campak target pencakupan vaksin MR di seluruh Indonesia pada 2018. (ANTARA /Rahmad)

... tanpa mengecek apakah benar kematian bayi itu ada hubungannya dengan imunisasi atau tidak...
Jakarta (ANTARA News) - Ketua I Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim B Yanuarso SpA, meminta media massa tidak memberitakan tentang imunisasi secara provokatif yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.

"Misalnya, membuat judul 'Bayi Meninggal Dunia Setelah Diimunisasi' tanpa mengecek apakah benar kematian bayi itu ada hubungannya dengan imunisasi atau tidak," kata dia, dalam seminar yang diadakan Pengurus Pusat IDAI, di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan, memang ada yang disebut kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI). KIPI adalah semua kejadian medis yang terjadi setelah imunisasi, yang menjadi perhatian dan diduga berhubungan dengan imunisasi, bisa berupa gejala, tanda, penyakit atau hasil pemeriksaan laboratorium.

Masalahnya, banyak media massa yang kemudian melaporkan semua kejadian yang terjadi setelah pasien diimunisasi dan pemberitaannya seolah mengarahkan kejadian itu akibat imunisasi.

"Misalnya, setelah imunisasi bayi dibawa pulang naik ojek, lalu ojeknya kecemplung parit dan bayi menderita patah tangan dan kaki, kemudian dilaporkan dengan judul 'Bayi Tulang dan Kaki Setelah Diimunisasi'," tuturnya.

Pengurus Pusat IDAI mengadakan Seminar Pekan Imunisasi Dunia 2018 bertema "Capai Imunisasi Lengkap: Bersama Melindungi dan Terlindungi".

Pada seminar itu juga terungkap bahwa kejadian bayi berumur dua bulan yang meninggal setelah diimunisasi, yang sempat diberitakan sejumlah media massa, ternyata disebabkan pendarahan di kepala karena bayi tersebut terjatuh empat hari sebelum imunisasi.

Selain Piprim, pembicara lain pada seminar itu Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI, Prof dr Cissy B Kartasasmita, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, drg Vesya Sitohang, Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Sholeh, dan Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia, dr Hindra Irawan Satari.

WHO menetapkan Pekan Imunisasi Internasional pada setiap pekan terakhir April, yaitu 24-30 April, setiap tahun.

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Siswa madrasah di Aceh imunisasi vaksin difteri

Komentar