Alasan Laksmi Pamuntjak mendedikasikan "Aruna dan Lidahnya" untuk suami

Alasan Laksmi Pamuntjak mendedikasikan "Aruna dan Lidahnya" untuk suami

Penulis Laksmi Pamuntjak dalam peluncuran novel "Aruna dan Lidahnya" edisi sampul film di Jakarta, Jumat (3/8/2018) (ANTARA News/ Yashinta Difa)

Dari obrolan di meja makan, kita bisa belajar bahwa di balik satu hidangan ada cerita lain
Jakarta (ANTARA News) - Penulis Laksmi Pamuntjak mendedikasikan novel "Aruna dan Lidahnya" untuk almarhum suaminya yang meninggal pada 2013 karena kanker pankreas.

Selain kecintaannya pada makanan, novel bertema travel dan kuliner itu ditulis setelah Laksmi tersadar betapa dekatnya makanan dengan kehidupan manusia bahkan hingga detik-detik terakhir hidup suaminya.

"Yang sangat menyentuh bagi saya, satu minggu sebelum suami saya koma dia selalu melihat program-program kuliner di televisi. Padahal secara inderawi dia tidak lagi bisa merasakan nikmatnya makan," kata Laksmi dalam acara peluncuran novel "Aruna dan Lidahnya" edisi sampul film di Jakarta, Jumat.

Ternyata, makanan adalah sumber memori yang menyenangkan dalam hidup sang suami, Djohan Setiawan Kandar, yang inisialnya ditulis dalam halaman awal novel "Aruna dan Lidahnya".

"Di saat-saat terakhir, dia menjadi orang sangat manis dan sangat bersyukur atas segala yang sudah dia alami semasa hidup," tutur Laksmi.

Wakil Indonesia dalam Poetry Parnassus di London pada 2012 itu melihat makanan sebagai sarana untuk merayakan sekaligus merekatkan keragaman.

Makanan, bagi Laksmi, juga jendela untuk menyampaikan berbagai isu yang lebih luas seperti agama, aktivisme, kebijakan publik dan politik.

"Dari obrolan di meja makan, kita bisa belajar bahwa di balik satu hidangan ada cerita lain," kata dia.

Pemahaman dan pengalaman pribadi itulah yang mendorongnya menulis "Aruna dan Lidahnya", yang terbit pada 2014 dan akan segera diadaptasi menjadi film dengan judul sama.

Salah satu prosa terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2015 itu berkisah tentang Aruna Rai, perempuan lajang 35 tahun yang berprofesi sebagai ahli epidemiologi. Obsesinya terhadap makanan membawanya menjajal kekayaan kuliner lokal bersama kedua sahabatnya, chef Bono dan Nadezhda sang penulis, di beberapa kota di Tanah Air.

Dalam perjalan mereka, makanan, politik, agama, sejarah lokal dan relaita sosial tak hanya bertautan dengan korupsi dan misinformasi seputar politik kesehatan masyarakat, tetapi juga cinta, persahabatan dan kisah mengharukan yang mempersatukan sekaligus merayakan perbedaan antarmanusia.

Tokoh Aruna akan diperankan Dian Sastrowardoyo, sementara Bono dihidupkan oleh Nicholas Saputra. Ada pula Oka Antara yang memerankan karakter Farish, pria kaku yang cuma menganggap makanan sebagai sesuatu untuk mengisi perut dan karakter Nadezhda, kritikus makanan ternama, dipercayakan pada Hannah Al Rashid.

Film tersebut akan tayang mulai 27 September 2018, sementara novel "Aruna dan Lidahnya" edisi sampul film akan mulai dijual di toko buku mulai Senin (6/8) mendatang.

Baca juga: Dian Sastro yakinkan Nicholas Saputra untuk adu akting di "Aruna dan Lidahnya"
Baca juga: Dian Sastro jadi gadis pencinta makanan di "Aruna dan Lidahnya"

 

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar