Waspadai Praktik "Apartheid Untuk Adaptasi" di KTT Iklim

Jakarta (ANTARA News) - Laporan Badan Pembangunan PBB (UNDP) tentang dampak perubahan iklim terhadap pembangunan manusia, yang diluncurkan di Jakarta, Selasa, menyoroti perbedaan ekstrim dalam kapasitas adaptasi negara-negara dunia menghadapi iklim yang berubah. Negara kaya melakukan investasi besar dalam sistem pertahanan terhadap perubahan iklim, dengan peran besar dari pemerintah mereka tentunya. Sementara di negara berkembang, warga diserahkan pada kemampuan masing-masing untuk bertahan atau tenggelam, tulis Desmond Tutu, Uskup Agung Emeritus Cape Town dalam laporan itu. Lebih lanjut Tutu menjelaskan bahwa perbedaan ekstrim dalam kapasitas adaptasi ini telah memunculkan praktik suatu dunia dengan "politik adaptasi apartheid". Temuan UNDP mencermati bahwa kerja sama internasional dalam upaya adaptasi terhadap perubahan iklim tidaklah bergerak secepat yang diharapkan. Total biaya yang disediakan mekanisme multilateral untuk dana adaptasi hanya 26 juta dolar Amerika, padahal anggaran penanggulangan banjir di Inggris per tahunnya mencapai 1,2 miliar dolar. Di Venice, Spanyol, biaya mencegah banjir tiap tahun mencapai lebih dari 500 juta dolar Amerika. Sementara di Swiss, pemerintah mulai membeli mesin-mesin pembuat salju buatan. Para penulis laporan juga menyebutkan bahwa dana adaptasi yang diperuntukkan bagi negara-negara berkembang di seluruh dunia ternyata hanya memberikan dana yang kecil, tapi biayanya sangat besar. Sementara iklim berubah, orang miskin terpaksa menghadapi kejutan iklim dan risiko jangka panjang. Laporan UNDP menegaskan, "Andai kata pun pengurangan emisi secara ketat diterapkan saat ini, dua per tiga penduduk dunia yang tinggal di Asia masih semakin rentan terhadap bahaya suhu yang meningkat." "Kaum miskin tidak berada dalam posisi bisa mengelola resiko tambahan. Di kala terjadi kemarau, mereka harus menjual bibit dan hewan piaraan, menarik anaknya dari sekolah dan mengurangi makan," kata Kevin Watkins, ketua tim penulis laporan. "Ini sangat berbeda dengan cara orang di negara maju menghadapi masalah perubahan iklim," tambahnya. Ia mencontohkan di Belanda para pemilik rumah mempersiapkan diri menghadapi banjir dengan bantuan pemerintah membangun rumah di atas pondasi yang mirip dengan bawah kapal laut agar bisa mengambang di atas air. Sedangkan di desa padat penduduk di Delta Mekong, Vietnam, masyarakat setempat dibiarkan bergelut sendiri belajar berenang dan mencari pelampung. "Sementara orang kaya belajar mengambang di atas air banjir, orang miskin belajar terapung di dalamnya," tulis laporan itu. Menurut UNDP, tiap 1 dolar Amerika yang diinvestasikan dalam usaha adaptasi bisa melindungi aset senilai 2-3 dolar yang sebelumnya bisa lenyap akibat banjir, itu belum termasuk keuntungan tercegah dari kekurangan gizi, gangguan kesehatan, dan putus pendidikan. (*)

Editor: Bambang
COPYRIGHT © ANTARA 2007

Pemkot Tangerang pastikan iklim investasi mulai bergeliat

Komentar