counter

Resensi: "Hit & Run", film aksi berbalut komedi renyah

Oleh Maria Cicilia

Resensi: "Hit & Run", film aksi berbalut komedi renyah

Para pemain "Hit & Run" saat peluncuran perdana film "Hit & Run" di Jakarta, Rabu (29/5/2019) (ANTARA News/Maria Cicilia)

Jakarta (ANTARA) - Film aksi tak melulu harus soal baku hantam, jika ditambah dengan bumbu komedi, drama dan romantis pasti lebih seru seperti yang disuguhkan oleh "Hit & Run".

"Hit & Run" adalah film pertama Joe Taslim yang bergenre komedi, jika biasanya Anda melihat aktingnya yang sangat serius dengan pertarungan tanpa ampun, di sini Anda akan melihatnya sebagai sosok yang santai, suka bercanda namun jago bela diri.

Joe Taslim berperan sebagai Tegar Saputra, seorang polisi selebriti yang membasmi kejahatan di kotanya. Dia memburu Coki (Yayan Ruhian) seorang gembong narkoba yang juga jago bela diri.

Di tengah melaksanakan tugasnya, Tegar bertemu dengan Liow (Chandra Liow) seorang penipu kelas teri, Jefri (Jefri Nichol) bocah yang diperbudak cinta dan cengeng, serta Meisa (Tatjana Saphira) menyanyi dangdut yang jatuh cinta padanya. Ketiga orang ini kemudian menjadi informan bagi Tegar untuk menangkap Coki.

Perjalanan Tegar bertemu dengan Liow, Jefri dan Meisa serta mencari Coki ini sangat lah seru. Sebagai penulis skenario, Upi dan Fajar Putra tidak hanya menyajikan duel sengit saja tapi juga memasukkan bumbu-bumbu komedi yang fresh.

Komedi yang renyah

Joe Taslim yang biasanya berakting serius saja bisa membuat Anda tertawa terpingkal di film ini. Sebagai polisi yang cukup narsis, Anda tidak akan menyangka bahwa Joe bisa juga melakukan hal-hal konyol.

Bukan cuma Joe, Jefri Nichol juga sangat jauh dari kesan cowok ganteng, cool, bad boy dan idola para remaja putri. Jefri membuktikan kemampuannya bahwa dia tidak hanya unggul di film cinta remaja saja tapi juga bisa berperan sebagai sosok yang jauh dari kata sempurna sebab di sini dia digambar sebagai orang yang cengeng, culun dan diperbudak cinta yang mampu membuat Anda tertawa.

Hampir semua tokoh dalam film ini dibangun dengan ciamik dan menonjolkan karakter masing-masing. Komedi yang ditawarkan pun sangat sederhana, tidak ada kata-kata yang berlebihan namun tetap membuat tertawa bahkan untuk hal kecil sekalipun dan tidak membosankan.

Adegan laga

Film ini juga menandai reuni antara Joe dan Yayan yang sebelumnya bertemu di "The Raid" sebagai musuh bebuyutan. Sama seperti delapan tahun lalu, pertarungan keduanya begitu sayang untuk dilewatkan mulai dari menggunakan tangan kosong hingga bantuan senjata.

Adegan aksi lain yang tak kalah seru adalah saat Joe berkelahi di atas truk yang berjalan. Pada bagian ini akan terlihat bahwa "Hit & Run" adalah film aksi sungguhan.

Meski berbalut komedi, tetap saja terdapat adegan perkelahian yang terbilang sadis. Namun sadis di sini masih bisa disaksikan hingga usia 17 tahun, tidak seperti film aksi lain yang kebanyakan mengambil rating 21 tahun ke atas.

Film berjenis aksi komedi seperti "Hit & Run" ini sebenarnya mengingatkan kita pada film-film milik Jackie Chan, di mana laga dan komedi bisa bersatu. Tapi untuk bikinan Indonesia khususnya karya sutradara Ody C Harahap, film memang pantas untuk diberi apresiasi.

"Hit & Run" mulai tayang di bioskop pada 4 Juni. Film ini akan hadir berbarengan dengan film Indonesia lain yang juga memiliki daya tarik khusus seperti "Si Doel The Movie 2" dan "Ghost Writer".

Namun dengan akting tak biasa dari Joe Taslim, Jefri Nichol dan Tatjana Saphira yang memukau, film ini akan mampu bersaing dengan film yang tayang pada tanggal yang sama.


Baca juga: Reuni ala Yayan Ruhian dan Joe Taslim di "Hit & Run"

Baca juga: Joe Taslim pertama kali main film komedi lewat "Hit&Run"

Baca juga: Berperan sebagai anak culun, Jefri Nichol keluar dari zona nyaman

 

Oleh Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jefri Nichol menyesal menggunakan narkotika

Komentar