counter

Sultan HB X dorong para dokter terus pelajari teori mutakhir

Sultan HB X dorong para dokter terus pelajari teori mutakhir

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan HB X bersama Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko melepaskan burung merpati saat peresmian Gedung Borromeus yang merupakan Gedung Instalasi Rawat Jalan Terpadu di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, Sabtu (29/6/2019). (ANTARA/Luqman Hakim)

Yogyakarta (ANTARA) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan HB X mendorong para dokter di Indonesia terus mempelajari dan menerapkan teori-teori kedokteran mutakhir (terkini) untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di dalam negeri.

"Kini ilmu kedokteran telah maju pesat, konsekuensinya dokter harus terus memperharui ilmu dengan rajin mempelajari teori dan praktik kedokteran mutakhir," kata Sultan dalam acara peresmian Gedung Instalasi Rawat Jalan Terpadu di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, Sabtu.

Menurut Sultan, sejatinya para dokter spesialis di Indonesia tidak perlu diragukan keahliannya. Bahkan, dari sisi teknologi, banyak rumah sakit di Indonesia yang telah menggunakan teknologi terbaru, tak kalah dari negara-negara maju.

Meski demikian, Sultan mengakui masih banyak kalangan masyarakat yang lebih mantap berobat ke luar negeri seperti di Singapura atau Malaysia dengan persepsi bahwa rumah sakit di luar negeri lebih maju.

"Kini seharusnya teknologi bukan lagi menjadi dalih untuk berobat ke luar negeri. Kita sudah memiliki peralatan paling mutakhir seperti di negara-negara maju," kata Raja Keraton Yogyakarta ini.

Menurut Sultan, persepsi masyarakat tentang lebih majunya kedokteran di luar negeri harus menjadi tantangan bagi masyarakat kedokteran di Indonesia. Selain terus memperbarui wawasan terbaru di bidang kedokteran, pola komunikasi serta kerja tim kedokteran, para medis, dan penunjang medis juga harus dibenahi.

"Kurangnya komunikasi itulah penyebab pasien lebih cenderung percaya pada rumah sakit di Malaysia atau Singapura," kata dia.

Selain itu, lanjut Sultan, keterbatasan jumlah dan distribusi dokter spesialis bedah khususnya untuk pelayanan gawat darurat di Indonesia juga perlu menjadi perhatian khusus.

"Di Indonesia ilmu kedokteran tentang kegawatdaruratan masih dilakukan dengan disiplin ilmu klinis secara parsial. Kurangnya dokter spesialis emergensi menimbulkan pelayanan unit ICU tidak optimal," kata dia.

Peresmian Gedung Borromeus yang merupakan Gedung Instalasi Rawat Jalan Terpadu baru di Rumah Sakit Panti Rapih dilakukan oleh Sultan HB X. Secara simbolis Sultan menandatangani prasasti dan dilanjutkan dengan pelepasan burung merpati bersama Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko.*


Baca juga: Sultan HB X: Peternak bisa menolak jika ayam dibeli murah

Baca juga: Anggaran atasi bencana kekeringan di Gunung Kidul dipastikan siap

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sosok ideal menteri Jokowi di mata Buya

Komentar