counter

Ahli gizi: Krisis air akibat kemarau picu perilaku hidup tidak sehat

Ahli gizi: Krisis air akibat kemarau picu perilaku hidup tidak sehat

Sejumlah warga mandi menggunakan air dari sumur buatan di Desa Parungmulya, Ciampel, Karawang, Jawa Barat, Selasa (2/7/2019). Akibat musim kemarau sebagian warga di wilayah itu terpaksa membuat sumur buatan untuk melakukan aktivitas Mandi Cuci Kakus (MCK) karena sumber air di rumah mereka mengalami kekeringan. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/hp. (ANTARA FOTO/Muhamad Ibnu Chazar)

Jakarta (ANTARA) - Ahli gizi Profesor Dr. Hardinsyah MS mengatakan krisis air yang disebabkan oleh kemarau dapat memicu gaya hidup tidak sehat.

"Krisis air bisa memicu pola hidup yang tidak bersih," katanya di Jakarta, Senin.

Contoh perilaku tidak sehat tersebut, kata dia, di antaranya seperti membuang kotoran sembarangan dan tidak dibersihkan, tidak mencuci bahan makanan serta peralatannya dengan air bersih dan juga penggunaan air cucian berkali-kali demi menghemat air.

Pola tidak sehat semacam itu, imbuh dia, dapat mendatangkan penyakit menular seperti diare, typus, hepatitis dan penyakit menular lain yang ditimbulkan oleh air yang tidak bersih.

Karena itu, dia mengimbau masyarakat untuk berusaha sedemikian rupa menjaga kesehatan diri dan lingkungan dengan mencuci terlebih dahulu bahan makanan yang akan dikonsumsi.

Selain itu masyarakat juga perlu membiasakan hidup bersih dengan mencuci tangan sebelum makan, mencuci alat makan dan minum serta membersihkan kotoran yang dibuang.

Pola hidup sehat semacam itu, kata dia, perlu dilakukan demi menjaga kebersihan lingkungan dan tidak menularkan penyakit kepada orang lain.

Dia juga menekankan perlunya masyarakat menggunakan air secara tepat guna, tidak dibuang-buang tetapi juga tidak membatasi kebutuhan air bersih untuk kehidupan sehari-hari.

Pewarta: Katriana
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Krisis air bersih, warga manfaatkan sumur tua

Komentar