counter

Harga minyak global berbalik jatuh, saat ketegangan Iran-AS mereda

Harga minyak global berbalik jatuh, saat ketegangan Iran-AS mereda

Illustrasi: Harga minyak mentah turun (ANTARA News/Ridwan Triatmodjo)

Di luar badai, kami merasa berada dalam mode pengetatan persediaan hingga Agustus
New York (ANTARA) - Harga minyak berbalik lebih rendah pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), jatuh lebih dari tiga persen setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kemajuan telah dibuat dengan Iran, menandakan ketegangan dapat mereda di Timur Tengah.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September turun 2,13 dolar AS atau 3,2 persen, menjadi ditutup pada 64,35 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Acuan internasional mencapai tertinggi sesi di 67,09 dolar AS pada pagi hari.

Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus turun 1,96 dolar AS atau 3,3 persen, menjadi menetap pada 57,62 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Patokan AS mencapai tertinggi sesi di 60,06 dolar AS di awal perdagangan.

"Apa yang menjadi penarik telah menjadi penghalang," kata Direktur Berjangka Energi Mizuho, Bob Yawger, di New York. Dia mengatakan ketegangan antara AS dan Iran yang telah mendorong harga lebih tinggi di awal sesi menempatkan peredam pasar setelah pernyataan Trump.

Presiden Trump pada Selasa (16/7) mengatakan banyak kemajuan telah dibuat dengan Iran dan bahwa ia tidak mencari perubahan rezim di negara itu.

Trump yang membuat pernyataan pada pertemuan Kabinet di Gedung Putih, tidak memberikan perincian tentang kemajuan tersebut, tetapi Menteri Luar Negara AS Mike Pompeo mengatakan pada pertemuan tersebut bahwa Iran telah menyatakan siap untuk bernegosiasi tentang program misilnya.

Ketegangan antara AS dan Iran mengenai program nuklir Teheran sebelumnya telah memberikan dukungan kepada minyak berjangka, mengingat potensi lonjakan harga jika situasinya memburuk.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif minggu ini mengatakan negaranya terbuka untuk pembicaraan jika AS menghapus sanksi-sanksi terhadap Iran.

Hubungan antara AS dan Iran telah memburuk secara signifikan setelah Washington meninggalkan secara sepihak pakta nuklir penting pada Mei 2018 dan menerapkan kembali sanksi-sanksi energi dan keuangan, yang telah dihapus berdasarkan kesepakatan, terhadap Iran.

Ketidakpastian tentang prospek ekonomi China juga menekan harga lebih rendah setelah data pada Senin (15/7) menunjukkan pertumbuhan di negara itu telah melambat menjadi 6,2 persen dari tahun sebelumnya, laju terlemah dalam setidaknya 27 tahun.

Selain itu, perusahaan-perusahaan minyak AS pada Senin (15/7) mulai memulihkan sebagian dari hampir 74 persen produksi yang ditutup di anjungan mereka di Teluk Meksiko karena Badai Barry.

Para pekerja kembali ke lebih dari 280 anjungan produksi yang telah dievakuasi. Diperlukan beberapa hari untuk melanjutkan produksi penuh.

Badai mungkin akan menghasilkan penurunan yang nyata dalam stok minyak mentah AS minggu ini, kata analis di Commerzbank.

Data persediaan akan dipublikasikan oleh American Petroleum Institute (API) pada Selasa malam (16/7/2019), dan oleh Departemen Energi AS pada Rabu waktu setempat.

Beberapa mengatakan data persediaan bullish bersifat struktural, dan tidak hanya disebabkan oleh badai.

"Di luar badai, kami merasa berada dalam mode pengetatan persediaan hingga Agustus," kata seorang analis di Price Futures Group, Phil Flynn, di Chicago. Demikian laporan yang dikutip dari Xinhua.

Baca juga: Dolar menguat ditopang data penjualan ritel AS yang positif

Baca juga: Bursa saham Spanyol menguat, Indeks IBEX-35 ditutup naik 0,57 persen


 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar