counter

Polda Metro tunggu data dari Facebook selidiki kasus 'child grooming'

Polda Metro tunggu data dari Facebook selidiki kasus 'child grooming'

(kiri-kanan) Komisioner Bidang Pornografi dan Cyber Crime Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua KPAI Susanto, Deputi Direktur Pengendalian Konten Internet, Direktorat Pengendalian Aplikasi Informasi, Antonius Malau, Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Iwan Kurniawan, Kabid Humas Argo Yuwono, Ketua LPAI Seto Mulyadi dalam konferensi pers pornografi anak di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (29/7/2019). (ANTARA/Shofi Ayudiana)

Jakarta (ANTARA) - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan kepolisian masih menunggu data dari Facebook untuk menyelidiki kasus child grooming atau pelecehan anak yang dilakukan oleh oknum melalui gim online bernama Hago.

"Di sana (Facebook) kita dapat beberapa nomor dan tentunya itu menjadi kewenangan Facebook. Kita masih komunikasi dan menunggu nomor-nomor yang ada di Facebook," kata Argo saat dikonfirmasi di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa.

Argo mengatakan apabila sudah mendapatkan nomor-nomor tersebut, kepolisian selanjutnya akan melakukan penyelidikan untuk mengetahui ada tidaknya tersangka baru selain AAP.

Menurut Argo ada tiga grup WhatsApp dengan total anggota sekitar 400 orang, yang menyebarkan video pornografi dan pelecehan anak.

Apabila ada pasal yang dilanggar, misal Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Argo menyatakan itu akan membantu untuk menetapkan pelaku sebagai tersangka.

Sebelumnya, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Jakarta berhasil menangkap seorang pelaku berinisial AAP atas kasus tindak pidana pornografi anak yang melakukan aksinya bermula dari aplikasi gim online.

Modus yang dilakukan berupa mendaftarkan diri di aplikasi gim online bernama Hago untuk mendapatkan targetnya dari kalangan anak-anak perempuan berusia 9-15 tahun.

Setelah itu, pelaku meminta nomor ponsel target untuk mengirim pesan dan melakukan video call lewat aplikasi WhatsApp.

Dalam video call tersebut, pelaku mengarahkan korban untuk membuka pakaiannya, melakukan masturbasi, dan tindakan asusila lainnya. Kegiatan tersebut direkam oleh pelaku sebagai ancaman jika korban menolak untuk melakukan kembali yang diminta pelaku.

Maka dari itu, kepolisian hingga saat ini masih menunggu data dan nomor-nomor ponsel para pelaku dari Facebook selaku pemilik WhatsApp.

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Polda Metro Jaya terjunkan 750 petugas dukung sistem ganjil genap

Komentar