Singapura (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan melakukan pertemuan dwipihak dengan Perdana Menteri Selandia Baru John Key menjelang pembukaan pertemuan puncak ke-17 Forum Kerja sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).

Pertemuan itu dilakukan di Ruang Gemini, Hotel Marina Mandarin, Singapura, Sabtu pagi sekitar pukul 08.30 waktu setempat.

Pertemuan itu dijadwalkan berlangsung selama lebih kurang setengah jam. Seusai melakukan pertemuan dwipihak kedua kepala pemerintahan akan melakukan jamuan santap siang bersama para pemimpin ekonomi negara-negara APEC yang lain.

Pada pukul 13.30 waktu setempat, para pemimpin ekonomi negara-negara anggota APEC akan melakukan pertemuan informal sesi pertama tingkat kepala negara/pemerintahan di Istana.

Kemudian pada pukul 16.00 waktu setempat para pemimpin ekonomi APEC akan melakukan dialog dengan ABC (APEC Business Advisory Council).

Selain bertemu dengan Perdana Menteri John Key, sebelumnya Presiden Yudhoyono telah melakukan pertemuan dengan sejumlah kepala negara/pemerintahan negara sahabat antara lain Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Presiden China Hu Jintao dan Perdana Menteri Papua Nugini Sir Michael Somare.

Para pemimpin ekonomi dari 21 negara anggota APEC akan melakukan pertemuan tingkat tinggi di Singapura, 14-15 November 2009. Dalam pertemuan itu akan dibahas antara lain proses penyatuan perdagangan bebas kawasan dan pencapaian Target Bogor (Bogor Goals) bagi negara-negara maju pada 2010.

APEC merupakan forum yang terbentuk dan perkembangannya dipengaruhi antara lain oleh kondisi politik dan ekonomi dunia saat itu yang berubah secara cepat di Uni Soviet dan Eropa Timur, termasuk kekhawatiran gagalnya perundingan Putaran Uruguay yang akan menimbulkan proteksionisme dengan munculnya kelompok regional serta timbulnya kecenderungan saling ketergantungan diantara negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

Forum yang dibentuk 1989 di Canbera-Australia itu telah melaksanakan langkah besar dalam menggalang kerjasama ekonomi sehingga menjadi suatu forum konsultasi, dialog dan sebagai lembaga informal yang kerja sama ekonominya berpedoman melalui pendekatan keterbukaan bersama berdasarkan sukarela, melakukan inisiatif secara kolektif dan untuk mendukung keberhasilannya dilakukan konsultasi yang intensif terus menerus diantara 21 ekonomi anggota.

Pada awalnya terdapat 12 negara sebagai pendiri yaitu Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Indonesia, Jepang, Republik Korea, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat.

Sejak dibentuk APEC telah menjadi wahana utama di kawasan Asia Pasifik dalam meningkatkan keterbukaan dan praktek kerjasama ekonomi sehingga dapat menarik masukan beberapa negara yaitu Republik Rakyat China, Hongkong-Cina dan Chinese-Taipe untuk bergabung pada 1991 yang kemudian disusul masuknya Meksiko dan Papua New Guinea tahun 1993 seerta Chili pada 1994. Sedangkan tiga ekonomi anggota terakhir yaitu Federasi Rusia, Peru dan Vietnam bergabung dalam forum APEC tahun 1998.

Dalam perkembangannya APEC memiliki peran cukup strategis dengan penduduk sekitar dua milyar jiwa atau lebih dari 40 persen populasi dunia dan mewakili 45 persen nilai perdagangan dunia (1996) - sebuah pasar potensial untuk perdagangan barang, jasa dan sumber daya manusia.

Realisasi pertumbuhan GDP APEC tahun 2000 sebesar 4,1 persen berarti relatif sedikit lebih rendah dari pertumbuhan GDP dunia yang sebesar 4,7persen, di samping itu APEC juga memiliki arti penting dalam rangka pembangunan nasional karena mewakili 69.1 persen pasar ekspor non-migas dan merupakan 63,3 persen sumber impor non-migas Indonesia masing-masing tahun 2000.

Indonesia mendukung peran penting APEC dalam meningkatkan kerjasama ekonomi di kawasan dan berperan aktif dalam pengembangan arah kerja sama APEC ke depan. Partisipasi Indonesia di APEC dilandaskan pada pentingnya mengantisipasi dan mengambil keuntungan dan mengamankan kepentingan nasional RI dari era perdagangan dan investasi yang semakin bebas di Asia Pasifik.

Manfaat lain dari forum APEC bagi Indonesia adalah sebagai tempat melibatkan komunitas bisnis Indonesia dalam proses pengembangan kebijakan, sarana pengembangan kapasitas melalui pemanfaatan proyek-proyek APEC, forum bertukar pengalaman, serta forum yang memungkinkan Indonesia untuk memproyeksikan kepentingan-kepentingannya dan mengamankan posisinya dalam tata hubungan ekonomi internasional yang bebas dan terbuka. (*)

Pewarta:
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2009