San Francisco (ANTARA News) - Lebih dari selusin organisasi pembela privasi dan konsumen berjalan beriringan memprotes apa yang mereka anggap sebagai penjiplakan oleh Facebook saat jejaring sosial ini berkilah melindungi informasi penggunanya.

The Electronic Privacy Information Center, Jumat, mengatakan bahwa mereka bergabung dengan 14 organisasi lainnya untuk mengadukan Facebook ke Komisi Perdagangan Federal (FTC) atas tuduhan melakukan praktik-praktik tidak jujur dan menipu.

Para pengkritik Facebook ini juga melayangkan surat ke Kongres AS untuk mendesak DPR memonitor ketat bagaimana Komisi Perdagangan Federal mengawasi privasi seseorang dihormati Facebook.

"Facebook terus memanipulasi seting pribadi penggunanya dan kebijakan keprivasian mereka sendiri sehingga dapat mengambil informasi pribadi yang diberikan pengguna untuk tujuan terbatas yang kemudian membuatnya menjadi bisa mudah diakses untuk tujuan-tujuan komersial," bunyi surat itu.

"Facebook telah melakukan ini berulang-ulang dan para pengguna menjadi semakin marah dan frustasi," lanjut surat itu.

Mereka menuduh Facebook melanggar hukum perlindungan konsumen dengan mengubah informasi mengenai konsumen yang menyalahi ekspektasi pengguna, merongrong privasinya, dan menentang representasi Facebook itu sendiri.

Pada 21 April, jejaring sosial ini menciptakan serangkaian fitur baru, termasuk kemampuan laman mitra dalam menggunakan data Facebook, sebuah langkah yang akan memperluas kehadiran jejaring itu di Internet.

Pekan lalu, empat senator AS menunjukkan kekhawatiran mereka bahwa perubahan di jejaring sosial membuat privasi lebih dari 400 juta penggunanya bisa dikompromikannya.

Dalam satu surat yang ditujukan kepada pendiri Facebook Mark Zuckerberg, senator-senator itu mengungkapkan kekhawatirannya bahwa informasi pribadi dari pengguna Facebook bisa diakses dengan mudah oleh laman-laman pihak ketiga.

Keempat senator menandaskan bahwa perusahaan yang bermarkas di Palo Alto, California itu mesti berbagi informasi personalnya melalui prosedur "opt-in" yang memungkinkan pengguna secara khusus memberi izin datanya dibagi untuk pihak lain.

Salah seorang penandatangan surat, Senator Demokrat Charles Schumer, mendesak FTC mencermati perlindungan privasi pengguna dalam Facebook, MySpace, Twitter dan jejaring sosial lainnya, serta menerbitkan petunjuk pemanfaatan informasi yang sifatnya pribadi.

Keluhan dari organisasi-organisasi perlindungan privasi ini telah disampaikan ke pengadilan, Rabu, pada hari yang sama ketika Facebook mematikan sementara fitur chat onlinenya yang meungkinkan teman-teman para pengguna Facebook menyaksikan satu sama lain pesan chat pribadi mereka.

Wakil Presiden Komunikasi Global Facebook Elliot Schrage bersikukuh bahwa privasi online ditangani sangat serius oleh Facebook.

"Produk dan fitur baru ini dirancang untuk memperkuat personalisasi dan mempromosikan aktivitas sosial di Internet sembari terus memberi pengguna kontrol tidak terhingga untuk informasi apa yang mereka bagi, kapan mereka ingin membaginya, dan dengan siapa," kata Schrage. (*)

Reuters/Jafar

Pewarta: Luki Satrio
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010