Jakarta,(ANTARA News) - Bermaksud meniti jejaring hidup dengan meluapkan asa agar menjadi princess, seorang model berparas ayu membentangkan layar kemudian melajukan bahteranya ke negeri seberang.

Di sana, ia bertemu dan berucap janji setia di pelaminan bersama seorang pangeran Kerajaan Kelantan Malaysia. Ujung-ujungnya, bahtera asa kandas di batukarang duka.

Manohara Odelia Pinot (17), keturunan dari perempuan bangsawan Bugis, Sulawesi Selatan, dengan pria berkebangsaan Perancis, melarikan diri dari kehidupan di istana Kerajaan Kelantan, dan pulang ke Indonesia. Riak gelombang ceria di samudera pernikahan bersama Pangeran Kelantan Tengku Fakhry, berubah jadi amuk membara karena tubuh tercederai amuk purba kekerasan.

Ada jejak dari stempel kekerasan dalam rumah tangga, menurut pengakuan anak kedua dari pasangan Daisy Fajarina dengan Reiner Pinot Noack itu. Manohara mengaku menyesal telah menikah dengan Fakhry.

"Pada awalnya saya tidak tahu akan begini. Namun, dengan adanya seperti ini saya merasa jadi harus hati-hati dalam berteman," kata Mano, setelah kembali ke Indonesia, Minggu (31/5), seperti dikutip dari laman Kompas.

"Yah sekarang saya menyesal dan sudah tidak cinta lagi. Saya tidak akan kembali ke Malaysia, dengan alasan apa pun. Saya kenal Tengku sejak tiga tahun lalu, dan awalnya dia begitu sopan baik," katanya.

"Sekarang ternyata semuanya beda dan saya sudah tersiksa karenanya," imbuhnya. Cinta tidak lagi bertuah, karena sesah hati kini dialami perempuan belia.

Drama Manohara menyeret bara membara dari peliput berita. Jutaan mata publik coba dipuaskan jejaring berita, dari media cetak sampai elektronik. Mereka saling mendermakan hasil liputannya di kotak "infotainment".

Gemerincing berbagai topik ditebar, beragam fakta disusun, agar pintu surga terbuka untuk menebus kealpaan insan akan mutiara bijak dari filsuf klasik Cicero, "tidak pernah seorang itu sibuk, ketika ia tidak melakukan apa-apa".

Setelah pernikahannya pada tanggal 26 Agustus 2008 dengan Tengku Muhammad Fakhry, Manohara diwartakan hanya sejenak mencicipi bulan madu bersama suaminya. Menurut cerita Manohara, Fakhry kerapkali melakukan kekerasan terhadap dirinya. Kekerasan seakan memberangus kontrol atas masa depan, karena janji yang meletak di atas ingatan, tiba-tiba berbuah "lupa untuk mengingat".

Yang membara dari kasus Manohara, tarikan napas akan satu rangkuman nalar kehidupan bahwa, "engkau melihat dulu, baru engkau tahu." Yang kian membara, mengapa orang terhela oleh penjelasan bahwa mata publik kian melahap warta seputar tubuh?

Untuk tubuh perempuan molek, meluncur ungkapan, "bohay nan mengundang". Untuk tubuh pria ganteng, melesat ungkapan, "dandy nan mencemaskan." Dua jawaban bagi pertanyaan seputar "proyek ketubuhan".

Manohara mengaku ada bekas luka di bagian tubuhnya akibat siksaan suaminya masih ada. Pihaknya akan memproses secara hukum atas kekerasan yang dilakukan suaminya kepada dirinya. Pengakuan tindak kekerasan yang dialaminya diwartakan berbagai media massa di Indonesia.

Drama dari proyek tubuh kian memesona media massa. Dalam wawancara eksklusif yang dilansir stasiun televisi antv, Minggu pagi, Manohara menceritakan bagaimana ia bisa lolos dari ?cengkeraman? keluarga Kerajaan Kelantan.

"Saat itu saya dari lantai 13 hotel itu, saya turun mau ke lantai 1. Tapi di lantai tiga lift itu ditahan karena di lantai itu ada kamar Raja (Kelantan). Saya di lift duduk sambil teriak-teriak dan menekan tombol emergency. Jadi kalau saya diambil lagi oleh mereka, banyak saksi yang melihat," kata Manohara, yang dalam wawancara tersebut didampingi sang ibunda, Daisy Fajarina.

Dalam kesempatan itu, Mano mengungkapkan bahwa selama menjadi istri pangeran Kelantan, dirinya kerap mendapat siksaan. "Saya dianggap seperti barang saja, seperti anak kecil dengan mainan mobil-mobilannya. Saya dipaksa melakukan segala hal dan diawasi. Saya benar-benar tersiksa," ucapnya.

Sehari setelah tiba di Indonesia, Manohara mendadak sibuk dengan seabrek kegiatan, utamanya meladeni wawancara dengan berbagai stasiun televisi nasional. Bahkan, seorang pengusaha layar lebar mengakui kemolekan tubuh Manohara. Dunia selebriti siap menyambut bunga pendatang baru itu. "Semua tawaran itu belum kami setujui, " kata ibunda Manohara dalam sebuah wawancara dengan televisi nasional.

Manohara terus tampil sebagai tubuh yang tiada henti dieksploitasi untuk dikonsumsi. Oleh siapa? Dan mengapa?

Kasus Manohara mewakili corak dari masyarakat yang berorientasi konsumsi. "Konsumsilah sebanyak mungkin, agar engkau diakui sebagai warga dunia global." Ini label yang melekat di kubu mereka yang mengusung modal sebagai sembahan.

Meminjam istilah filsuf Pierre Bourdieu, tubuh "dikomodifikasikan" agar terlihat bernilai. Kapitalisme tubuh berselimutkan gunjang-ganjing Manohara. Dan kapitalisme tubuh mewakili kisah serigala berbulu domba.

Kalau tubuh dikebiri hanya sebagai komoditi, maka dia hanyalah sebatas kapital. Yang ada, sejumlah ungkapan, "Model rambutmu seperti model rambut Manohara. Dia kelihatan pas dan tampak molek mengenakan kebaya gaya Manohara." Bukankah, dunia pernah dilanda demam rambut gaya Lady Di?

Kepada siapa modal diabdi? Bagi kepentingan sebuah kelas masyarakat yang memiliki "habitus" tertentu. Selimut kapitalisme tubuh menjanjikan kehangatan bagi mereka yang merindukan dunia serba gemerlap.

Ada ujaran populer, "yang penting tampil ngejreng." Lampu kamera media menyiram sekujur tubuh agar meluncur kata-kata, "Ini saya banget lho." Logat Jakartanya, "Ini gue banget lho."

Dengan menoleh kepada kasus Manohara, publik pemirsa seakan digiring ke meja makan yang disesaki hidangan bermerk superfisial, karena yang autentik dilumuri oleh kosmetik, yang asali ditutup aneka topeng.

Orang takut tampil apa adanya. Tabu bernalar dan berkata, bahwa semakin seseorang superfisial, semakin ia mudah menyerah kepada kedurjanaan. Selera publik adalah mata uang baru dunia pergaulan.

Di gelanggang politik, orang cepat menelan petuah selebriti moral, sehingga dengan mudahnya menerima kaidah baru tanpa bertanya, "apa artinya bagi kehidupan banyak orang? Di manakah aku ketika berpikir?"

Apakah Manohara bertanya mengenai perilaku Tengku terhadapnya? Pernah. Jawaban yang diperoleh Manohara dari Fakhry, "Because you are my property," katanya dengan seraut wajah sendu dari sang princess.(*)