Kamis, 2 Oktober 2014

Kondisi Terumbu Karang NTT Memprihatinkan

Senin, 25 Juli 2011 15:51 WIB | 4.157 Views
Kondisi Terumbu Karang NTT Memprihatinkan
Terumbu Karang (ANTARA/Rosa Panggabean)
Keadaan ekosistem terumbu karang di NTT cukup memprihatinkan akibat aktivitas manusia yang merusak karang seperti melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan potasium.
Kupang (ANTARA News) - Sekretaris Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi NTT, Blasius Jemiun, mengatakan kondisi terumbu karang di perairan wilayah Nusa Tenggara Timur saat ini sangat memprihatinkan.

Hal ini disebabkan karena ulah manusia yang melakukan aktivitas penangkapan ikan di perairan laut wilayah itu selalu menggunakan bahan peledak, Blasius Jemiun, pada sosialisasi peraturan Gubernur NTT tentang pengelolaan ekosistem terumbu karang di NTT di Kupang, Senin.

"Keadaan ekosistem terumbu karang di NTT cukup memprihatinkan akibat aktivitas manusia yang merusak karang seperti melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan potasium, kata Jemiun.

Menurut dia, keragaman terumbu karang di NTT cukup banyak dan potensinya hampir merata di semua perairan wilayah itu, tetapi saat ini terancam dan kebanyakan rusak karena ulah manusia atau oknum tidak bertanggungjawab.

Jemiun menambahkan, saat ini hanya sekitar 17,6 persen terumbu karang yang terdapat di areal 154.341,45 hektar perairan Nusa Tenggara Timur yang masih dalam kondisi baik.

Terumbu karang yang rusak serius mencapai 23,5 persen dan yang kondisinya rusak sedang sebanyak 58,8 persen.

"Jadi terumbu karang di NTT yang kondisinya masih baik hanya sekitar 17,6 persen saja," kata Blasius Jemiun.

Kerusakan terumbu karang itu kata dia, terjadi karena ulah manusia seperti penangkapan hasil laut dengan bom, potasium atau bahan beracun lainnya yang akhirnya mempengaruhi ekosistem terumbu karang.

Dia berharap agar ada kesadaran tentang pentingnya keberadaan terumbu karang dari para nelayan, sehingga tidak lagi melakukan aktivitas di perairan dengan menggunakan bahan beracum, yang merusak ekosistem di perairan.

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2011

Komentar Pembaca
Baca Juga