Moskow (ANTARA News) - Rusia, sekutu utama pemerintah Suriah, mendesak Presiden Bashar al-Assad untuk berunding dengan oposisi, namun pihak oposisi sendiri menanggapi dingin usul Moskow tersebut.

Tekanan baru terhadap Bashar terjadi ketika Moskow meningkatkan usahanya dalam menyelamatkan proses perdamaian yang compang-camping itu dengan menjadi tuan rumah pertama seorang utusan penting Damaskus dan kemudian akan melakukan pertemuan dengan penengah perdamaian Suriah Lakhdar Brahimi.

Rusia juga mengundang ketua kelompok oposisi Koalisi Nasional Suriah untuk berunding di Moskow, tapi Moskow masih menganggap Bashar pemimpin sah.

Namun usaha ini mendapat tanggapan dingin dari ketua Koalisi Nasional Suriah Ahmed Moaz al-Khatib yang menolak undangan ke Moskow seraya menuduh Rusia melakukan campur tangan.

"Kami telah mengatakan dengan terus terang bahwa kami tidak akan ke Moskow," kata Khatib kepada stasiun televisi Al-Jazeera seperti dikutip AFP. "Kami ingin Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov meminta maaf."

Presiden Rusia Vladimir Putin bulan ini dua kali mengatakan bahwa Moskow tidak berniat untuk terus menjadi tempat bersandar Bashar.

"Rusia telah mengakui bahwa Bashar tidak memiliki masa depan," kata pengamat Carnegie Moscow Centre, Alexei Mashenko.

(H-RN/Z002)

Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2012