Jumat, 19 Desember 2014

Ratu Beatrix, pengubah wajah kerajaan Belanda

| 4.366 Views
id beatrix turun tahta, ratu beatrix, ratu belanda, raja belanda, Willem-Alexander
Ratu Beatrix, pengubah wajah kerajaan Belanda
Ratu Beattix, Belanda (koninklijkhuis.nl)
Den Haag (ANTARA News) - Ratu Belanda yang energik, Beatrix, yang akan segera turun tahta untuk digantikan anak tertuanya Putera Mahkota Willem-Alexander, telah meraih simpati luas rakyat Belanda selama 33 tahun berkuasa karena memberi sentuhan modern dan citra pekerja keras kepada kerajaan Belanda.

Melanjutkan ibundanya yang amat dia cintai, Juliana, pada 1980, dalam usia 42 tahun, Beatrix dengan cepat mengubah segalanya begitu dinobatkan.

Berbalikkan dari gaya berkuasa ibunya yang rendah hati, Beatrix menolak berperan sebagai tukang gunting pita, dia mengubah panggilan "nyonya" menjadi  "yang mulia", dan mengubah salah satu istana kerajaan di Den Haag menjadi istana kerja.

Di istana ini dia menerima para kepala negara dan menggelar pertemuan mingguan dengan para perdana menteri untuk mendiskusikan masalah pemerintahan, sampai dia digelari "CEO Belanda".

Dia juga menandatangani UU dan memainkan peran penting dalam politik Belanda dengan menunjuk seorang formatur yang mempelajari kemungkinan pemerintahan koalisi hasil pemilu.

Tapi tahun lalu ketika Perdana Menteri Mark Rutte terpilih menjadi kepala pemerintahan untuk kedua kalinya, untuk pertama kalinya dia tidak aktif terlibat dalam penunjukan formatur.

Lahir pada 31 Januari 1938 sebagai anak pertama dari pasangan Ratu Juliana dan Pangeran Bernhardt, Beatrix Wilhelmina Armgard atau Puteri Orange-Nassau, tinggal di pengasingan di Inggris dan Kanada selama Perang Dunia II ketika Nazi Jerman menduduki Belanda.

Setelah menamatkan kuliah hukumnya, dia menikahi diplomat Jerman Barat Claus von Amsberg pada Maret 1966. Hubungan ini memicu demonstrasi berujung kekerasan yang menentang dia berhubungan dengan pria yang di masa kecilnya mengenakan seragam Hitler Muda.

Kerusuhan meledak pada penobatan Beatrix tanggal 30 April 1980 menyusul lengser mengejutkan ibunya setelah 31 tahun berkuasa.  Saat itu rakyat mengkritik seremoni mahal untuk penobatan sang ratu.

Namun pendekatan rendah hati sang ratu baru segera memenangkan hati rakyat.  "Bukan kekuasaan, hasrat pribadi dan bukan pula kekuasaan turun menurun, namun semata hasrat untuk melayani masyarakat yang dapat memberi isi kepada satu kerajaan modern," katanya dalam pidato penobatannya, seperti dilaporkan AFP.

Dikenal dengan panggilan "Trix", ratu berusia 75 tahun itu memancarkan gaya borjuis kerajaan dengan mengenakan gaun rapi nan praktis yang bersesuaian dengan topinya.

"Hanya kesempurnaan yang tergambar darinya. Dia bekerja sangat sistematis," kata mantan perdana menteri Dries van Agt.

"Istana dijalankan layaknya perusahaan," sambung sejarawan Henk Wesseling seperti dikutip AFP.

Sedangkan seorang mantan pelayan istana bersaksi, "dia bisa marah sekali ketika melihat di sekelilingnya tidak beres atau jika dia menghadapi situasi yang tak diperkirakan. Pada segala keadaan dia ingin mengendalikan situasi."

Majalah Forbes terbitan 2011 menaruh Beatrix dalam urutan ke-14 kerajaan terkaya dunia dengan kekayaan bersih 200 juta dolar AS (Rp1,94 triliun).

Dia dikaruniai tiga putera dan yang tertua, Willem-Alexander, menjadi pewarisnya.

Serangkaian tragedi tahun-tahun lewat lalu menimpa Beatix dan ini mengundang simpati luas masyarakat.

Tahun lalu putera keduanya, Friso,mengalami kecelakaan parah setelah bermain ski di Austria yang mengakibatkan otak kirinya cedera.

Suaminya, Pangeran Claus, meninggal dunia dalam usia 76 tahun pada 2002, diiikuti ibundanya dan kemudian ayahandanya pada 2004.

Dan pada Hari Ratu 30 April 2009, bangsa Belanda larut dalam kekagetan saat seorang pria menabrakkan mobilnya ke kerumunan pesta di tengah kota Apeldoorn, hampir mengenai bus terbuka yang membawa Ratu dan anggota keluarganya.

Tujuh warga tewas dalam apa yang digambarkan sebagai serangan terhadap keluarga kerajaan itu.  Lalu melalui satu taklimat yang emosional di televisi, setelah tragedi berlangsung, Beatrix mengaku "syok berat".

Berbagai jajak pendapat hari-hari berikutnya memperlihatkan dukungan yang naik tajam untuk ratu, yang 43 persen diantaranya mengatakan ratu harus tetap bertahan, naik dari 27 persen sebelum sang ratu diserang.

Kendati begitu Beatrix bukan budak jajak pendapat.  "Saya melihat popularitas itu berbahaya, dangkal dan sementara," katanya dalam wawancara dengan televisi Belanda.

Pengunduran dirinya pertama kali muncul tahun 2006 ketika renovasi kastil segi delapan Drankensteyn di mana dia akan pindah tinggal di kastil ini, demikian AFP.


Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar Pembaca
Baca Juga