Warga tidak perlu khawatir dan tidak perlu mengungsi
Yogyakarta (ANTARA News) - Embusan asap solfatara Merapi dengan ketinggian kolom asap 1.500 meter, Senin, menyebabkan hujan abu tipis di wilayah Deles Kabupaten Klaten Jawa Tengah.

"Deles berada di lereng timur Merapi yang berjarak sekitar enam hingga tujuh kilometer dari puncak gunung. Ketebalan abu kurang dari satu milimeter," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Subandriyo di Yogyakarta, Senin.

Embusan asap solfatara terjadi mulai pukul 06.54 WIB dan berlangsung secara terus menerus hingga 07.08 WIB. Asap condong ke arah barat daya, namun abu turun di lereng timur karena pengaruh angin.

Menurut Subandriyo, embusan asap solfatara kerap terjadi pascaletusan eksplosif Merapi pada 2010 karena terjadi proses pelepasan gas.

Subandriyo menambahkan, embusan asap kali ini juga dipengaruhi oleh gempa tektonik di Malang Jawa Timur yang terjadi pada Minggu (9/3) sekitar pukul 20.00 WIB.

"Gempa tektonik itu mengguncang perut Merapi yang berisi magma. Akibat guncangan itu terjadi pelepasan gas yang menimbulkan embusan," katanya.

Pada puncak embusan, BPPTKG mencatat munculnya gempa vulkanik dalam.

"Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Namun tidak ada pengaruh signifikan terhadap aktivitas gunung secara keseluruhan," katanya.

Embusan asap solfatara yang dipicu oleh gempa sudah pernah terjadi sebelumnya yaitu saat gempa Cirebon.

Meskipun demikian, BPPTKG tetap menyatakan status gunung api aktif yang berada di perbatasan DIY dan Jawa Tengah tersebut tetap aktif normal.

"Warga tidak perlu khawatir dan tidak perlu mengungsi. Aktivitas kegempaan sudah kembali normal. Namun warga tetap diminta waspada dan kami akan terus melakukan pemantauan," katanya.


Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2014