Palu (ANTARA News) - Kepala Perum Bulog Sulawesi Tengah Maruf mengatakan bahwa ada tiga faktor mendasar yang menghambat pengadaan beras di daerah itu.

"Ketiga faktor itu adalah bencana alam, hama, dan banyaknya pedagang luar membeli beras di daerah ini," katanya di Palu, Senin.

Misalnya, bencana alam banjir di Kecamatan Toili dan Toili Barat, Kabupaten Banggai beberapa waktu lalu dilaporkan ada ribuan hektare areal sawah terendam.

Begitu pula adanya serangan hama terhadap tanaman padi sawah petani di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Banggai dan Parigi Moutong menyebabkan produksi petani menurun.

Belum lagi ditambah banyaknya pedagang luar yang datang membeli langsung beras ke petani, terutama di wilayah Parigi Moutong dan Donggala.

"Ini semua sangat berpengaruh besar terhadap kegiatan pengadaan beras oleh Bulog Sulteng," kata Maruf.

Apalagi, kata dia, pedagang dari Manado (Sulut) dan Gorontalo membeli beras petani jauh lebih tinggi dibandingkan Bulog yang membeli berdasarkan standar harga pembelian pemerintah (HPP).

Pedagang membeli beras petani dengan harga Rp7.200 per kilogram. Sementara Bulog membeli beras petani baik langsung melalui satgas maupun mitra (swasta) terima di gudang Bulog seharga Rp6.600 per kilogram.

Hingga kini, Bulog Sulteng, kata Maruf, baru membeli 15.500 ton beras petani.

Padahal pada Musim Panen 2014, Bulog Sulteng menargetkan pembelian beras petani sebanyak 47 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan penyaluran di daerah itu.
(BK03)

Pewarta: Anas Masa
Editor: Ella Syafputri
Copyright © ANTARA 2014