New York (ANTARA News) - Pasar minyak dunia pada perdagangan Senin (Selasa pagi WIB) memangkas kerugian besar yang dipicu kegagalan produsen-produsen minyak mentah utama untuk penyepakati pembatasan produksi yang bisa memperkuat pasar.

Menurut para analis, pemogokan yang mengakibatkan pengurangan lebih dari 60 persen dari produksi minyak Kuwait telah membantu mendukung pasar minyak.

Harga minyak mentah turun hampir tujuh persen pada pagi hari setelah produsen-produsen utama yang menggelar pembicaraan di ibukota Qatar, Doha, pada Minggu berakhir dengan tangan kosong.

Tetapi pada akhir perdagangan, patokan AS minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei sebagian besar telah pulih, hanya kehilangan 58 sen (1,4 persen) menjadi menetap di 39,78 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Di perdagangan London, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni, patokan internasional, berkurang hanya 19 sen (0,4 persen) menjadi ditutup pada 42,91 dolar AS per barel.

Anggota utama OPEC Arab Saudi pada Minggu bersikeras tidak akan setuju untuk membekukan produksi tanpa partisipasi dari sesama anggota kartel Iran - yang memboikot pembicaraan.

Harga telah pulih pada pekan lalu, di tengah harapan bahwa OPEC dan produsen non-OPEC seperti Rusia akan setuju untuk menahan atau membekukan tingkat produksi.

"Sebuah kesepakatan tentang pembatasan produksi, yang masih tampak mungkin sehari sebelumnya, gagal karena Arab Saudi, menuntut semua produsen minyak - yang ia katakan termasuk Iran - harus dimasukkan," analis Commerzbank mengatakan dalam sebuah catatan klien.

"Arab Saudi secara sengaja mentorpedo perjanjian dan bersedia menerima kegagalan. Ini telah sangat merusak kredibilitas produsen-produsen minyak pada umumnya dan dari OPEC pada khususnya," kata Commerzbank.

Matt Smith dari ClipperData mengatakan pasar menemukan beberapa dukungan pada Senin dari pemogokan oleh para pekerja minyak di Kuwait yang memprotes rencana pemotongan upah.

Produksi minyak Kuwait jatuh lebih dari 60 persen menjadi 1,1 juta barel per hari pada Minggu, hari pertama pemogokan. Smith mencatat bahwa minyak mentah Kuwait dikirim terutama ke Korea Selatan, Tiongkok dan India.

Kelebihan pasokan berlanjut

Kegagalan pembicaraan Doha menunjukkan berlanjutnya kelebihan pasokan di pasar. Kenaikan produksi dan pertumbuhan global yang lebih lambat, terutama di Tiongkok, konsumen energi terbesar di dunia, membantu menekan harga minyak mentah dari atas 100 dolar AS pada pertengahan 2014 ke posisi terendah 13-tahun sekitar 27 dolar AS pada Februari.

Sampai saat ini para anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang memproduksi sekitar 40 persen dari minyak dunia, menolak untuk memotong produksi mereka.

Sikap yang didukung Saudi telah ditujukan untuk mendorong pasar lebih rendah, guna mengusir pemain-pemain yang kurang kompetitif, termasuk produsen minyak serpih (shale oil) AS, sambil mempertahankan pangsa pasar mereka sendiri.

Tetapi, meskipun telah jatuh sekitar enam persen, produksi AS masih tetap tinggi.

Sebagai akibatnya, eksportir-eksportir utama mulai dari Nigeria hingga Venezuela dan Kanada, serta termasuk Arab Saudi, telah menderita kerugian miliaran dolar dari pendapatan yang hilang karena harga telah jatuh.

"Pertemuan yang banyak ditunggu memamerkan keretakan politik antara Arab Saudi dan Iran, dan (ini) akhirnya menggagalkan sebuah kesepakatan," kata analis minyak Barclays, Miswin Mahesh dalam sebuah catatan penelitian.

Iran - yang baru saja kembali ke pasar minyak dunia setelah pencabutan sanksi terkait program nuklir oleh Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya pada Januari - telah mengesampingkan pembatasan produksinya sendiri dan mengatakan ingin meningkatkan produksi ke tingkat pra-sanksi.

"Walaupun ada sejumlah faktor yang mungkin menahan pasokan minyak dalam jangka pendek - termasuk pemogokan di Kuwait dan gempa bumi di Ekuador - masalah utama OPEC adalah hubungan antara Arab Saudi dan Iran dan masalah ini tidak akan pergi," Rebecca OKeeffe, kepala investasi di broker online Interactif Investor, mengatakan kepada AFP.

"Memang, Arab Saudi bisa bergerak untuk meningkatkan pasokan dalam menanggapi produksi Iran yang lebih tinggi dalam upaya untuk mempertahankan pangsa pasar mereka," katanya. "Kebuntuan ini bisa melihat depresi jangka menengah berkelanjutan dalam harga minyak." Demikian laporan AFP.

(A026)

Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2016