Selasa, 26 September 2017

Universitas Brawijaya latih warga rakit pengusir kelelawar di Masjid Al-Ghozali

| 4.619 Views
Universitas Brawijaya latih warga rakit pengusir kelelawar di Masjid Al-Ghozali
Sejumlah kelelawar tangkapan warga berada di dalam kandang, di Sungai Pinyuh, Kab. Pontianak, Kalbar, Rabu (29/8/2012). Kelelawar yang ditangkap di kawasan hutan Wajok Hulu tersebut, dipercaya memiliki khasiat dapat menyembuhkan penyakit asma atau sesak napas yang dijual seharga Rp35 ribu per ekor. (ANTARA/Jessica Helena Wuysang)
Kami siap memberikan pelatihan serupa di tempat lain bila memang dibutuhkan oleh masyarakat."
Malang (ANTARA News) - Dosen dan mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya memberikan pelatihan perakitan perangkat pengusir kelelawar kepada warga di sekitar Masjid Al Ghazali Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, Senin.

Dosen penanggung jawab pelatihan itu, Eka Maulana mengatakan, semula pihaknya menawarkan pelatihan perakitan solar cell dan piranti elektronik pendukung, namun warga juga membutuhkan piranti untuk mengatasi gangguan kelelawar di lingkungan masjid.

"Akhirnya kami juga memberikan pelatihan pembuatan perangkat elektronik pengusir kelelawar," katanya di sela pelatihan itu.

Menurut Eka, prinsip kerja perangkat pengusir kelelawar sangat sederhana, yakni menggunakan frekuensi ultrasonik yang dipancarkan melalui transduser untuk menganggu sistem komunikasi dan navigasi kelelawar. Pada prinsipnya semua makhluk hidup baik manusia, tumbuhan maupun bakteri dan sejenisnya peka terhadap frekuesi tertentu.

Frekuensi tersebut, kata alumni Universitas Miyazaki Jepang itu, dapat dibangkitkan pada nilai tertentu untuk proses berkomunikasi atau berinteraksi antara makhluk hidup seperti memanggil, mengusir, bahkan untuk membantu pertumbuhan.

Sementara, kelelawar mengeluarkan pulsa gelombang ultrasonik dengan frekuensi sekitar 30-50 kHz untuk sistem komunikasi dan navigasi.

Ia mengatakan, melalui sinyal dengan frekuensi tertentu yang dipancarkan perangkat elektronik, kelelawar akan merasa terganggu dan akan pergi serta tidak membuat kerusuhan. Ibaratnya manusia juga akan terganggu dan risau bila diperdengarkan sinyal berfrekuensi tinggi.

Proses perakitan perangkat pengusir kelelawar ini, lanjutnya, tidak membutuhkan waktu lama. Hanya saja, untuk masyarakat awam dibutuhkan proses mempelajari dan membuat program pada komponen mikrokontroller untuk membangkitkan sekaligus mengukur frekuensi yang dihasilkan perangkat.

"Bahasa pemrograman yang digunakan adalah bahasa C," katanya.

Pada perangkat pengusir kelelawar yang terpasang di Masjid Al-Ghozali, sumber dayanya dibangkitkan menggunakan solar cell dengan daya keluaran 50 Watt. Solar cell ini terhubung dengan solar controller regulator, yang selanjutnya disimpan ke dalam baterai dan mensuplai perangkat.

"Target awal solar cell hanya digunakan untuk menghidupi perangkat pengusir kelelawar, tapi ke depan diharapkan bisa digunakan untuk cadangan listrik perangkat elektronik masjid seperti amplifier (pengeras suara) dan lampu untuk penerangan," katanya.

Pembuatan perangkat pengusir kelelawar di Masjid Al-Ghozali tersebut hanya menghabiskan biaya kurang lebih Rp100 ribu di luar komponen baterai dan solar cell. Jangkauan perangkat sejauh 5-10 meter. "Kami siap memberikan pelatihan serupa di tempat lain bila memang dibutuhkan oleh masyarakat," urainya.

Selain Eka, mahasiswa yang terlibat dalam pelatihan tersebut antara lain Hasan, Doni Darmawan Putra, Muhammad Fatahillah, Amrizal Karim Amrulloh, Muhammad Ilham Akbar, Muslichin, Mahfudz, dan Muhammad Arsil Khaji.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga