Kamis, 24 Agustus 2017

Mentan bertekad tingkatkan produksi kopi Arabika

| 1.798 Views
Mentan bertekad tingkatkan produksi kopi Arabika
Menteri Pertanian Amran Sulaiman (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pertanian Amran Sulaiman bertekad meningkatkan produksi kopi jenis Arabika agar jumlahnya bisa setara dengan kopi jenis Robusta melalui peremajaan (replanting).

"Kopi itu yang nomor satu dunia Brasil, berikutnya Vietnam, Kolombia, dan Indonesia. Ke depan kita akan ubah, produksi kita kejar hingga 1.000.000 ton per hektare agar bertengger di posisi dua dunia," katanya di Jakarta, Selasa.

Setelah melantik dua pejabat eselon satu di Kementerian Pertanian, ia mengatakan pemerintah ingin menaikkan peringkat Indonesia sebagai produsen kopi terbesar dunia.

Ia menjelaskan alasan untuk mendorong produksi kopi Arabika karena harganya yang dua kali lipat lebih tinggi daripada kopi Robusta, meski hampir 90 persen produksi kopi Indonesia adalah Robusta.

"Kami akan upayakan (robusta) 50 persen turun populasinya. Di sisi lain, kami tingkatkan populasi Arabika sehingga produksinya seimbang," katanta.

Pemerintah, lanjut Amran, akan menggandeng Kementerian Pertanian Vietnam untuk mempelajari produktivitas kopi lantaran negara itu dapat memproduksi hingga 2,5 ton hingga 3 ton kopi per hektare.

Kondisi tersebut masih jauh dari capaian Indonesia yang produktivitasnya hanya mencapai 0,6 ton per hektare.

"Kami sudah diskusi dengan Vietnam. Dalam waktu dekat, akan ada delegasi Indonesia untuk melihat produktivitas di sana. Ingat dahulu karet kita ajari mereka, sekarang gantian. Sebanyak satu ton saja dahulu kita kejar," katanya.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Bambang secara terpisah mengaku belum bisa menyebut jumlah luasan lahan "replanting" kopi dalam program tersebut.

Dia mengatakan program tersebut menjadi prioritas lantaran saat ini hampir semua komoditas perkebunan sangat diminati pasar, baik luar maupun dalam negeri.

Bambang mengatakan bahwa produksi kopi yang mayoritas digarap perkebunan rakyat memang masih rendah, yakni hanya sekitar 700.000 ton per tahun.

"Ini sangat mungkin ditingkatkan. Sampai dua ton per hektare juga bisa," katanya.

Editor: AA Ariwibowo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga