Minggu, 22 Oktober 2017

Bincang-bincang bersama penulis Eka Kurniawan

| 4.540 Views
Bincang-bincang bersama penulis Eka Kurniawan
Penulis Eka Kurniawan (ANTARA News/Lia Santosa)
Jakarta (ANTARA News) - Eka Kurniawan, pria asal Tasikmalaya ini tak lagi bisa diragukan kemampuan menulisnya. Novel karyanya, Lelaki Harimau bahkan pernah masuk dalam nominasi penghargaan literatur bergensi, Man Booker International Prize 2016.

Novel perdananya Cantik Itu Luka mendapat penghargaan World Reader's Award pada 22 Maret 2016. Selain itu sejumlah pihak juga memuji sejumlah karya Eka, sebut saja novel Seperti Dendam, Rindu harus Dibayar Tuntas dan O.   

Seperti apa perjalanan Eka hingga bisa menyentuh dunia tulis menulis, lalu apa yang membuatnya terjun di bidang itu ? Berikut kutipan wawancara bersama Eka beberapa waktu lalu.

Sejak kapan terjun ke dunia menulis? dan masih ingat karya pertama waktu itu?

Waktu SMP, saya menulis puisi lalu dikirim ke majalah lalu dimuat. Ya perasaanya lebih ke, saya anak sekolah, bisa dibilang tidak populer, bukan anak paling pinter di kelas, di sekolah, bukan anak paling gaul, jago olahraga. So so lah. Mirip-mirip wallpaper. Ada di sana tetapi orang tidak terlalu perhatiin.

Saya nulis puisi lalu dimuat di majalah, lalu teman-teman satu sekolah dan guru-guru tahu, saya merasa bahwa saya memiliki sejenis keunikan.

Saya enggak bisa olahraga, setidaknya saya bisa nulis. Saya melakukan hal yang teman saya tidak bisa lakukan.

Puisi apa yang Anda tulis waktu itu?

Saya enggak inget apa. Dulu saya merasa menulis puisi itu paling gampang. Saya pikirnya nulis pendek, hanya sepuluh baris. Nulisnya pendek-pendek. Makin lama ketika saya sudah mulai banyak baca, mulai belajar menulis, justru saya merasa menulis puisi sulit.

Lalu, bagaimana bisa akhirnya beralih ke novel?

Waktu SMP belum ada bayangan menjadi penulis. Hanya suka baca saja, SMA suka baca. Ketika nulis puisi lalu dimuat di majalah, itu sudah enggak terlalu ingin menulis lagi.

Sama seperti kalau kita penasaran terhadap sesuatu, ya sudah. Sebagai anak remaja, perhatian kepada hal-hal lain misalnya suka musik. Zaman dulu ditanya mau jadi apa, ya lebih ingin jadi anak band.

Tapi tahu enggak punya bakat musik, lalu beralih ingin jadi komikus. Enggak ada bayangan jadi penulis sampai pertengahan kuliah.

Saya lalu berpikir kayaknya bagus juga jadi penulis. Enggak ada bayangan mau nulis seperti apa. Tapi kalau waktu SMA ditanya mau nulis novel apa, saya akan jawab mau nulis novel silat.

Karena bacaan saya novel silat. Jadi akan sangat tergantung bacaan saya. Ketika memutuskan jadi penulis saat kuliah, saat itu bacaan saya karya Herman Melville--di antaranya soal petualangan-petualangan di Lautan Selatan.

Siapa penulis favorit Anda?

Dari luar, Abraham Stoker ya. Karena mungkin lebih sering itu buku-buku pertama yang saya baca, zaman masih kuliah. Teringat-teringat tulisan dia dan sampai sekarang saya masih merasa itu novel gotik terbaik.

Dia punya karakter, karakter sangat jahat, tetapi sangat membekas. Membuat saya bisa berempati walau sejahat-jahatnya dia. Saya juga menonton filmnya, yang dimainkan oleh Francis Ford Coppola. Saya rasa itu film adaptasi terbaik yang pernah saya tonton.

Sedang sibuk mengerjakan apa saat ini?

Proyek antologi kumpulan budak setan, kumpulan cerpen horor. Kami semacam tribute saja untuk sesuatu yang sangat berarti untuk karir kepenulisan kami. Ketika kami berbicara dengan penulis lain soal membuat project, cerita pendek dengan karakter horor. Meskipun kami punya kebebasan masing-masing untuk mengartikan apa sih horor.

Dalam sehari ada target membaca?

Tidak tentu sih, kalau saya sih setiap ada waktu luang membaca sih. Enggak pernah memaksakan diri harus berapa halaman. Biasanya seperti hari ini sambil jemput anak, karena rebutan parkir biasanya minimal setengah jam sebelumnya sudah ada di sana, waktu setengah jam itu saya pergunakan untik baca.
Setiap hari pasti baca.

Kalau sedang stuck dalam menulis, biasanya melakukan apa?

Sering. Kalau stuck ya berhenti dulu, lepasin dulu. Saya merasa menulis bukan sesuatu yang saya harus push. Karena saya nulis novel, beda kalau saya jurnalis. Saya nulis kolom memangm itu beda lagi. Novel, kalau sudah menulis 10 halaman lalu stuckm ya saya tinggalin dulu saja. Saya memikirkan ide lain, baca buku atau jalan-jalan, dengar musik, pokoknya lakukan saja sesuatu.

Inspirasi menulis biasanya berasal darimana?

Macam-macam, bisa dari bacaan, mengobrol dengan orang. Biasanya saya duduk, kalau merasa ada waktu, mood enak, buka laptop coba-coba mau nulis apa. Sampai kebentuk idenya misalnya asik kalau begini - begini.

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga