Selasa, 26 September 2017

Napak Tilas Proklamasi (4) - Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta

| 12.349 Views
Napak Tilas Proklamasi (4) - Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta
Seorang petugas museum membersihkan patung di ruang pengesahan naskah Proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Kamis (15/8). Kediaman yang menjadi tempat perumusan naskah Proklamasi yang kini menjadi museum Perumusan Naskah Proklamasi tersebut dulunya merupakan kediaman seorang perwira Jepang Laksamana Muda Tadashi Maeda. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Bangunan bergaya arsitektur Eropa Art Deco itu didirikan sekitar 1920-an oleh arsitek Belanda JFL Blankenberg dengan luas bangunan 1.138,10 meter persegi di atas tanah seluas 3.914 meter persegi.

Pada 1930, bangunan tersebut tercatat dimiliki PT Asuransi Jiwasraya, Ketika pecah Perang Pasifik, gedung tersebut dipakai Konsul Jenderal Britania sampai Jepang menduduki Indonesia.

Gedung tersebut menjadi kediaman Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang Laksamana Muda Tadashi Maeda saat Jepang menduduki Indonesia. Di tempat itulah, naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dirumuskan.

"Saat ini, alamat kami di Jalan Imam Bonjol Nomor 1. Pada saat pendudukan Jepang, bernama Meiji Dori Nomor 1," kata Edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi Ari Suryanto.

Maeda tetap tinggal di gedung itu setelah kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 sampai Sekutu mendarat di Indonesia pada September 1945.

Setelah kekalahan Jepang, gedung tersebut menjadi markas tentara Inggris, hingga akhirnya menjadi milik Indonesia dalam aksi nasionalisasi terhadap milik bangsa asing di Indonesia.

Gedung itu dikontrak Kedutaan Inggris pada 1961 hingga 1981, selanjutnya diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada 1982, gedung tersebut sempat digunakan Perpustakaan Nasional sebagai perkantoran.

Karena nilai sejarahnya, pada 1984, Menteri Pendidikan Nugroho Notosusanto menginstruksikan Direktorat Permuseuman untuk merealisasikan gedung tersebut menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Instruksi itu terealisasi melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0476/1992 tertanggal 24 November 1992 yang menetapkan bangunan tersebut sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Bangunan tersebut barangkali tidak akan menjadi bagian dari sejarah Indonesia, bila tidak menjadi kediaman Maeda. Ahmad Soebardjo-lah, yang mengusulkan untuk meminjam rumah Maeda ketika bangsa Indonesia merumuskan naskah proklamasi.

"Soebardjo mengusulkan rumah Maeda karena merupakan teritori Angkatan Laut yang tidak bisa diganggu Angkatan Darat dan Polisi Jepang. Maeda mengambil risiko berkonflik dengan Angkatan Darat saat menyediakan rumahnya untuk merumuskan naskah proklamasi," tutur Ari.

Menurut Ari, Angkatan Laut Jepang memang memiliki sikap yang berbeda dengan Angkatan Darat terhadap kemerdekaan Indonesia setelah kekalahan Jepang dari Sekutu.

Angkatan Darat menyikapi kekalahan Jepang dengan menerima "status quo" yang diminta Sekutu, yang akhirnya situasi dikembalikan saat sebelum perang, yaitu Indonesia dikembalikan kepada Belanda.

Tentara Jepang adalah alat Sekutu untuk menjaga ketertiban dan tidak boleh ada perubahan situasi. Kemerdekaan Indonesia berarti terjadi perubahan situasi yang dapat menyudutkan Jepang.

Sedangkan Angkatan Laut mengambil sikap pemerintah Jepang pernah menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Bagi Angkatan Laut, janji samurai harus ditepati.

Hal itu juga diperkuat oleh pemikiran perwira-perwira Angkatan Laut yang lebih maju dibandingkan Angkatan Darat karena kebanyakan dari mereka mendapatkan pendidikan di luar negeri.

Karena itulah, pada 16 Agustus 1945 malam, setelah Soekarno dan Mohammad Hatta kembali ke Jakarta dari Rengasdengklok, Maeda menyediakan rumahnya untuk rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Sesampai di Jakarta, di rumah Hatta, Soebardjo menelepon Hotel Des Indes, tempat anggota PPKI menginap, untuk menanyakan apakah bisa disediakan ruangan untuk rapat.

"Pihak hotel menolak karena pemberlakuan jam malam," kata Ari.

Soebardjo kemudian menelepon Maeda agar dapat meminjamkan ruangan di kediamannya untuk rapat persiapan proklamasi kemerdekaan. Maeda menyatakan bersedia.

Setelah mendapatkan jawaban dari Maeda, Soebardjo kembali menelepon Hotel Des Indes untuk mengundang anggota PPKI agar segera datang ke rumah Maeda pada pukul 00.00.

Menurut buku komik "Peristiwa Sekitar Proklamasi" yang diterbitkan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Soekarni yang mengetahui rencana pertemuan di rumah Maeda kemudian menghubungi golongan pemuda yang ada di Jalan Prapatan 10 dan Jalan Cikini 71.

Dia memberitahu mereka bahwa malam itu akan diadakan rapat persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia di rumah Maeda.

Akhirnya pada pukul 22.00, Soekarno yang sudah sempat beristirahat sejenak di rumahnya, tiba di rumah Hatta. Bersama Soebardjo dan Sudiro, mereka kemudian pergi ke rumah Maeda.

Dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015) pada bagian "Kesaksian Shigetada Nishijima", Nishijima menuturkan Soekarno, Hatta dan Soebardjo tiba di rumah Maeda sekitar pukul 23.00 dengan dikawal Soekarni yang mengenakan seragam Pembela Tanah Air (PETA) lengkap dengan senjata revolver dan pedang bersama sejumlah pemuda lain.

Nishijima kemudian mempersilakan Soekarno-Hatta masuk ke ruang depan di dekat serambi depan. Soekarno-Hatta kemudian duduk, sementara para pemuda berdiri berjajar di belakang mereka.

Soebardjo sendiri berdiri di serambi depan dan bercakap-cakap dengan Nishijima. Dari Soebardjo, Nishijima tahu bahwa Soekarno-Hatta dibawa oleh kelompok pemuda ke Rengasdengklok.

Maeda kemudian turun dan menemui Soekarno-Hatta di ruangan depan. Nishijima tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi tampaknya bukan sesuatu yang penting karena cukup singkat.

Nishijima dan Soebardjo kemudian masuk dan memberitahu Maeda bahwa Soekarno-Hatta sebelumnya dibawa kelompok pemuda ke Rengasdengklok. Maeda tampak serius tetapi tenang saat mendengar kabar tersebut.

"Berjuang untuk kemerdekaan bisa saya hargai. Dan tidak saya duga dorongan di antara orang-orang Indonesia untuk itu demikian besar. Tetapi saya pasti tidak dapat menyetujui metode-metode revolusioner demikian itu," kata Maeda kepada para pemuda.

Maeda mengatakan kepergian Soekarno-Hatta dari Jakarta tanpa sepengetahuan penguasa militer Jepang merupakan kejadian serius. Seandainya mereka tidak kembali, Maeda mengatakan bisa berakibat buruk bagi keamanan dan ketertiban.



Bertemu Nishimura

Soekarno, Hatta dan Maeda dan penerjemah Shunkichiro Miyoshi kemudian berusaha menemui Kepala Pemerintahan Militer Jepang Jenderal Moichiro Yamamoto dan Direktur Urusan Umum Pemerintahan Militer Jepang Jenderal Otoshi Nishimura. Sedangkan Soebardjo diajak Soekarni bertemu Chaerul Saleh cs di Manggarai.

Yamamoto menolak menemui mereka dengan alasan telah larut malam. Nishimura bersedia menemui mereka, tetapi tetap tidak mau mengubah "status quo" Itu berarti Jepang yang telah takluk kepada Sekutu hendak mempertahankan keadaan Indonesia sebagaimana adanya.

"Kalau tadi pagi masih dapat dilangsungkan proklamasi kemerdekaan. Mulai pukul satu tadi siang, sejak kami menerima perintah atasan, kami tidak dapat mengubah status quo," kata Nishimura.

Keterangan Nishimura itu menimbulkan reaksi dan protes dari Soekarno-Hatta. Mereka menilai Jepang tidak menepati janji. Soekarno-Hatta akhirnya kembali ke rumah Maeda. Ada pun Maeda, diam-diam sudah pulang lebih dulu saat pertemuan berlangsung.

Sementara itu, anggota PPKI mulai berdatangan ke rumah Maeda. Mereka berkumpul sambil duduk menunggu.

Mereka tidak tahu apa yang ditunggu. Sebagian dari mereka diliputi kekhawatiran karena pada malam sebelumnya sempat "ditahan" para pemuda di Jalan Prapatan 10.

Tengah malam, antara 16 Agustus 1945 dan 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta tiba di rumah Maeda setelah bertemu Nishimura. Di rumah Maeda telah berkumpul banyak orang dari anggota PPKI, pemimpin-pemimpin pemuda dan pergerakan.

Di kamar depan rumah Maeda; Soekarno, Hatta, Miyoshi dan Maeda berlangsung pembicaraan serius. Para pemimpin bangsa Indonesia telah menyatakan bangsa Indonesia menolak dijadikan barang inventaris yang harus diserahkan Jepang kepada Sekutu.

Karena itu, mereka mengatakan akan menyatakan kemerdekaan saat itu juga serta menunjukkan pada bangsa lain bahwa suatu bangsa berhak menentukan nasib sendiri dengan memproklamasikan kemerdekaannya.

Maeda mendengarkan pembicaraan itu dengan baik. Dia kemudian mengundurkan diri untuk menuju kamar tidurnya di lantai atas. (bersambung) .

Editor: Unggul Tri Ratomo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga