Minggu, 24 September 2017

Catatan perjalanan tur Eropa G-Pluck

| 4.089 Views
Catatan perjalanan tur Eropa G-Pluck
G-Pluck, band asal Bandung yang memainkan lagu-lagu The Beatles disela jamuan makan malam diplomatik perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia di Chateau Sainte-Anne. (ANTARA News/Adnan Nanda)
Saya sedang menikmati sisa-sisa hujan di bulan April ketika telepon selular saya memekik. Sejenak saya membuyarkan lamunan dari buku yang sedang saya lahap. Layar di ponsel memperlihatkan nama Awan Garnida, pemain bass grup band Sore sekaligus pembetot bass grup band G-Pluck.

"The Beatles mau tur Eropa bulan Agustus. Lo ikut ya" dari ujung sambungan telepon.

Jika ada band di Indonesia yang berhasil menghadirkan kembali The Beatles secara totalitas, mungkin hanya G-Pluck yang paling sungguh-sungguh.

Tidak hanya sekedar menampilkan lagu-lagu The Beatles, G-Pluck meniru persis semua detail The Beatles dari cara memainkan musik, gaya berpakaian, model rambut, hingga semua perangkat musik.

Mereka bahkan masing-masing menampilkan sosok personel The Beatles lewat Awan Garnida (sebagai Paul McCartney - bass), Sigit Adnan (sebagai John Lennon - gitar), Wawan Hid (sebagai George Harrison - gitar), Beni (sebagai Ringo Starr - drums), Valdi (add. Keyboard).

Sejak dua puluh tahun lalu, G-Pluck tidak pernah berhenti memainkan musik The Beatles. Gaung mereka pun melintasi benua, hingga ke Eropa.

The Beatles, salah satu superband yang amat saya gemari selain Queen dan The Tielman Brothers; ke Eropa, siapa pula yang sanggup menolak?


Awal perjalanan


Band G-Pluck (ANTARA News/Adnan Nanda)

G-Pluck menggelar rangkaian tur Eropa mereka di Belanda dan Belgia mulai 30 Agustus.

Pada tur kali ini rombongan kami terdiri dari delapan orang. Kami berangkat bersama dari Gg. Kramat Lontar, lokasi yang boleh dibilang menjadi markas utama bagi beberapa band di antaranya G-Pluck, Sore, dan Orchest Stamboel.

Kapasitas bagasi menjadi perhatian bagi kami meski tidak terlalu banyak perangkat tempur yang G-Pluck bawa kali ini: empat pasang gitar elektrik, dua buah bass Hofner, satu koper wardrobe, dan dua koper berisi logistik sebagai amunisi bagi perut yang mungkin saja kurang bersahabat dengan sajian Eropa.

Setelah menempuh sebelas jam penerbangan Jakarta-Istanbul dan empat jam penerbangan penghubung, tibalah kami di Brussels sekira pukul dua belas siang. Kami dijemput oleh Mbak Tovani dari pihak KBRI Belgia dan Pak John, seorang pengemudi berkebangsaan Filipina.

"Kita akan segera menuju Wisma Duta di kawasan Tramlaan. Tidak jauh kok, lima belas menit saja," ujar Pak John dengan senyum merekah, berbanding terbalik dengan wajah-wajah kami yang kusut.

Kami bermalam di Wisma Duta sebelum berangkat ke Langweer keesokan harinya.


Desa Wisata


Tahun ini merupakan kunjungan kedua G-Pluck ke Langweer, Friesland. Maka tidak mengherankan ketika menjejakkan kaki di desa wisata air tersebut, beberapa orang penduduk langsung mengenali rombongan kami dan menyapa, “Hai Paul! Hai Lennon! Welcome back to Langweer!”

Kami segera menuju ke Villapark –deretan rumah singgah yang dikelilingi anak sungai di satu sisi dan danau di sisi lainnya, untuk beristirahat sejenak dan menyiapkan ‘peralatan perang’ untuk malam nanti. Saya dan Awan ‘Paul McCartney’ sempat berkeliling sejenak menikmati kawasan Langweer yang sejuk dan ditingkahi celotehan burung-burung laut.

"Sepertinya memang orang-orang di Langweer sini memang haus akan hiburan. Makanya begitu ada keramaian semacam festival musik, parade, atau bazaar, mereka akan berbondong-bondong keluar dari rumah. Dan mereka sangat menyukai The Beatles. Siapa pula orang yang tidak suka The Beatles?" kata Awan sang penggagas G-Pluck.

Awan menjelaskan bagaimana awalnya G-Pluck bisa ‘nyasar’ ke tanah rendah Belanda.

"Ada seorang pengusaha restoran dan bar di Jakarta bernama Bart. Dia sudah tinggal di Indonesia selama bertahun-tahun dan sering lihat penampilan G-Pluck. Tahun lalu akhirnya dia bisa mewujudkan keinginannya untuk bawa band ini ke kampung halamannya. Rupanya warga Langweer minta kami untuk datang lagi tahun ini. Dan nggak cuma penduduk Langweer, warga di desa Joure juga mengundang band untuk tampil di sana, lusa," pungkas Awan sembari melahap habis waffel-nya.


Saatnya Beraksi!


Semburat senja meredup. Pukul sembilan malam saya membantu Kang Tono –sosok yang bertanggungjawab dalam departemen suara, melakukan persiapan terakhir bagi penampilan band. G-Pluck naik ke atas panggung pukul sepuluh malam dan baru benar-benar mematikan instrumen musik mereka pada pukul satu dini hari!

"Gila sih ini! Tiris pisan didieu. Urang geus make jas tetep weh (anginnya) nembus. Kami nggak boleh berhenti main. Nggak kerasa main tiga jam di depan warga Langweer tetapi kami benar-benar menikmatinya," komentar sang gitaris Wawan “George Harrison’ Hidayat dengan aksen Sunda kental.


G-Pluck saat tampil di Langweer, Friesland (ANTARA News/Adnan Nanda)

Saya sempat bertegur sapa dengan beberapa orang penonton selepas band turun panggung. Seorang perempuan bernama Jane mengaku gembira karena bisa mengenang masa-masa kecilnya saat kali pertama mengonsumsi lagu-lagu The Beatles.

Sepasang suami istri yang pernah tinggal di Surabaya, Herman dan Christine, tidak beranjak sedikitpun dari tempat mereka berjoget di muka panggung.

"Indonesia memang hebat karena punya The Beatles versi sendiri! Kami suka sekali!" kata mereka kompak. Bahkan, saya mendapati pasutri yang nyaris berkepala enam ini turut hadir di desa Joure ketika band main dua hari kemudian. 

(Baca juga: Manggung di Eropa, G-Pluck dijuluki "The Asian Beatles")

Konservatisme ala Joure

Desa Langweer dan Joure hanya berjarak dua puluh menit perjalanan darat menggunakan mobil. Kami tiba pukul tujuh sore di venue yang merupakan kedai besar dengan sajian utama berupa kopi, daging asap, dan pasta besar.

Saat sedang menyiapkan perangkat kamera, sudut mata saya menangkap adanya keramaian dari arah kedai pizza bertajuk Cappadocia. Sebanyak lima belas orang berjaket merah dan bercelana motif hati dengan garis-garis diagonal berwarna biru, sibuk dengan instrumen musik mereka.

Inilah De Putkapel, rombongan marching band kebanggaan Friesland beranggotakan musisi-musisi amatir yang terbentuk sejak tahun 1993. Mereka membawakan lagu-lagu bertempo cepat di sepanjang jalan utama kawasan plaza Joure sehingga menarik minat orang-orang yang melintas di sana. Maka, venue pun menjadi ramai dan semakin meriah.

Tungku telah dipanaskan, tinggal siap menyajikan sesuatu yang menggelora: rock n roll!


G-Pluck saat menghibur masyarakat Joure, Friesland (ANTARA News/Adnan Nanda)

G-Pluck membuka penampilan malam itu lewat FromMe to You,Love Me Do, Hard Days Night, dan You Can’t Do That.

“Meski tidak ada monitor suara di lantai, tapi kondisi panggung dan soundnya masih amanlah,” curhat gitaris Sigit ‘Lennon’.

Di sela-sela kegiatan mengambil gambar, ada seorang bule berusia sekira empat puluh tahun yang memamerkan keahliannya berbahasa Indonesia kepada saya.

"Manise manise sungguh terlalu manise. Saya suka Indonesia. Salam untuk orang-orang di Indonesia," kata si bule bernama Martin. Saya menduga dia pernah ke Indonesia atau sering berlibur ke Bali. Namun Martin menggeleng.

"Di Joure ada beberapa orang keturunan Maluku. Jadi saya belajar sedikit-sedikit dari mereka," tambah Martin sambil menyebutkan beberapa kosakata Indonesia yang cukup vulgar.

Oke, oke, Martin. Saya harus kembali bertugas!

Pada kenyataannya warga Jourememang konservatif dan cenderung pemalu. Pernyataan ini saya dapatkan dari orang-orang Joure yang saya ajak bicara. Berbeda dengan warga Langweer yang atraktif, kebanyakan penduduk Joure menikmati sajian musik dengan duduk-duduk santai atau berdiri sambil menggenggam botol-botol mereka. Sesekali kepala mereka bergoyang dengan hentakan-hentakan kecil dari ujung sepatu, sambil tetap berkonsentrasi pada tema percakapan. Tidak banyak orang yang mau berdansa-dansi di depan panggung.

“Saya tidak terlalu mengenal The Beatles. Tetapi setelah melihat penampilan mereka (G-Pluck), sepertinya mulai sekarang saya akan mulai mendalami lagu-lagu The Beatles lainnya,” ujar lelaki bernama Jetze.

Senada dengan Jetze, seorang pria bernama Sid mengaku amat terhibur dengan aksi The Beatles versi Asia tersebut. Bahkan Brecht, perempuan yang kemudian meminta kartu nama saya dan band, bersikeras untuk mendatangkan kembali G-Pluck tahun depan. Baiklah Brecht, sampai bertemu tahun depan ya. Eh tapi omong-omong, saya tidak melihat Dennis Wayan. Di mana dia? tanya saya di dalam hati sambil menggenggam sekotak susu Friesland.

Selepas manggung di Joure, kami segera menempuh perjalanan darat selama empat jam kembali menuju Brussels.

Kembali ke Brussel

Saat mempersiapkan kebutuhan band di Avenue Tervueren, Brussels, duta besar Indonesia untuk Belgia, Yuri Thamrin, menghampiri rombongan kami.

"G-Pluck sudah ditunggu-tunggu banget untuk main di sini," buka Pak Yuri.

Menurut beliau, sebelumnya warga Indonesia di Brussels mengajukan semacam petisi untuk mengundang kembali G-Pluck pada perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72. "Makanya saya merasa gembira sekali Awan dan teman-teman kembali datang ke Belgia," senyum Pak Yuri.

"Pak Yuri adalah godfather-nya G-Pluck. Tanpa beliau, G-Pluck nggak bakalan ada.  Beliau yang berjasa membawa G-Pluck menancapkan bendera Indonesia pertama kali di Liverpool, Inggris, pada tahun 2008. Di sana kami main di sembilan panggung selama tujuh hari. Sampai detik ini hanya ada dua band tribut The Beatles dari Asia yang berhasil main di sana, G-Pluck dan satu band lain dari Jepang," sambung Awan.

Tirai tersingkap.


G-Pluck saat tampil di KBRI di Brussel (ANTARA News/Adnan Nanda)

G-Pluck naik panggung pada pukul dua siang. Tanpa banyak basa-basi, band langsung menyapa mayoritas orang-orang Indonesia yang hadir dengan lagu-lagu hits seperti I Want to Hold Your Hand, I Saw Her Standing There, Can’t Buy Me Love, Slow Down, Rock n Roll Music, dan The Ballad of John and Yoko


Kemeriahaan penampilan G-Pluck di KBRI di Brussel (ANTARA News/Adnan Nanda)

"Request lagu Hey Jude, dong!"

"Nggak usah berhenti sampai malam. Terus aja! Kalau perlu G-Pluck tinggal di Brussels."

"Ulangi lagi lagu-lagunya dari awal. Jangan berhenti."

Kalimat-kalimat tersebut terlontar penuh semangat dari penonton yang menikmati setiap sajian dari G-Pluck.

Selain sajian musik, acara perayaan kemerdekaan Republik Indonesia di Tervueren Brussels juga menampilkan hidangan-hidangan khas Indonesia. Nasi Padang, sate Madura, dan soto Betawi adalah beberapa contohnya, termasuk pula spare ribs met gebakker rijst alias nasi goreng berpadu iga bakar.


G-Pluck bersama duta besar Indonesia untuk Belgia, Yuri Thamrin, saat jamuan diplomatik (ANTARA News/Adnan Nanda)

Beberapa hari setelah tampil di Avenue Tervueren, rombongan kami mendapat undangan makan malam diplomatik di Chateau Sainte-Anne. Kami berkesempatan untuk bertemu dengan duta besar dari negara-negara sahabat yang ikut merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia.


Video saat G-Pluck menghipnotis masyarakat di Brussel:





Sesi Radio

Seharusnya, G-Pluck memiliki jadwal untuk bermain di dua kafe di Brussels. Namun karena terkendala teknis, dua agenda itu pun harus dibatalkan. Maka, satu hari sebelum kembali ke Jakarta, band dijadwalkan untuk bermain secara off-air di radio 104.3 BXFM. Bermain secara akustik, hanya Beni ‘Ringo Starr’ yang tidak berada di balik set drum-nya.

"Lumayan lah bisa istirahat. Lagipula cuma dua lagu, jadi nggak masalah," kata Beni santai.

Sesi wawancara berlangsung seru selama hampir satu jam. Beberapa kali Awan menimpali pertanyaan sang penyiar dengan gaya khasnya. Misalnya saat mengomentari kondisi tubuhnya yang sedikit ‘berisi’.

"Ya beda-beda tipis lah sama Paul (McCartney). Di Indonesia kan makanannya serba enak, Man! Coba aja Paul disuruh tinggal di Jakarta beberapa tahun. Palingan jadinya ya segede gue," kekehnya.


(ANTARA News/Adnan Nanda)

Ketika ditanya soal persaingan antarband tribut The Beatles, Valdy yang pada tur kali ini ikut sebagai additional keyboard menjelaskan bahwa di Indonesia ada ratusan komunitas The Beatles.

"Hampir semua komunitas punya minimal satu band bagus yang memainkan lagu-lagu The Beatles. Dan antarkomunitas itu fine-fine saja dan saling mendukung. Bahkan bila ada satu band yang kekurangan personel ketika hendak manggung, kami bisa saling pinjam-tukar personel, kok," ungkap Valdy.

Kami masih memiliki sisa waktu beberapa jam sebelum mempersiapkan segala keperluan untuk pulang. Maka kami berangkat menuju Den Haag untuk melakukan sesi foto. Sasaran utama kami adalah Torenstraat karena selain memiliki pemandangan khas berupa gedung-gedung tua yang berpadu dengan arsitektural modern, di kawasan tersebut juga terdapat toko instrumen musik bernama Rock Palace. Surga bagi para personel G-Pluck!

Berpamitan


(ANTARA News/Adnan Nanda)

Setelah hampir dua minggu berada di Eropa, tibalah saat kembali ke Jakarta. Tetapi kami tidak lupa untuk berburu buah tangan di Grand Place atau mengabadikan momen di Atomium. Sebelum bertolak ke bandar udara, kami juga sempat berkunjung ke kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia dan berpamitan dengan Bapak Yuri Thamrin.

"Mudah-mudahan kerjasama kita berlanjut terus ya," pesan Pak Yuri.

"Tentu saja, Pak. Rencananya G-Pluck memang akan kembali ke Inggris tahun depan dalam rangkaian tur memperingati sepuluh tahun kami main di Liverpool tahun 2008 lalu. Doakan saja mudah-mudahan turnya berjalan lancar tahun depan," pungkas Awan undur diri.

Sampai bertemu di Inggris tahun depan!

Editor: Monalisa

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga