counter

Sosok

Cerita dibalik turun gunungnya Rifat Sungkar di reli internasional

Cerita dibalik turun gunungnya Rifat Sungkar di reli internasional

Pereli nasional Rifat Sungkar ketika berbincang dengan media di bengkel miliknya di kawasan Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (10/8/2019). ANTARA/Bayu Kuncahyo

Jakarta (ANTARA) - Bagi pecinta reli di Indonesia, nama Rifat Sungkar sudah tidak asing lagi karena banyak prestasi yang ditorehkan, namun sejak 2013 anak pasangan Helmy dan Ria Sungkar itu menghilang dari ajang yang telah membesarkan namanya.

Usut punya usut, ternyata kakak kandung juara nasional reli 2017 Rizal Sungkar itu punya janji yang harus ditepati sebelum akhirnya turun gunung dengan berlaga pada kejuaraan reli internasional di Selandia Baru tepat pada HUT ke-74  Kemerdekaan RI pada 17 Agustus nanti.

"Setelah nikah, saya harus menunggu dua hingga tiga tahun untuk punya anak. Setelah anak lahir pada 2013, saya langsung berhenti balapan karena fokus memantau masa golden age anak saya. Dan, saat ini sudah sekitar 5,5 tahun jadi masa golden age itu udah lewat," kata Rifat di kawasan Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Sabtu.

Rifat Sungkar terakhir kali turun reli internasional di Amerika Serikat pada 2013. Sedangkan untuk balapan nasional khususnya sprint reli terakhir kalinya pada 2008.

Setelah menikah dengan artis Sissy Priscilia, Rifat Sungkar dikaruniai dua putra. Dari unggahan di media sosial resminya, pria yang selama vakum dari reli dan fokus menjadi Ketua Komisi Reli Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia (PP IMI) terlihat dengan dua anaknya.

Momen turun gunungnya Rifat ke lintasan reli ini juga terasa istimewa. Selain karena bertepatan dengan HUT ke-74 Kemerdekaan RI, juara nasional sprint reli sebanyak delapan kali itu turun di reli dengan kendaraan yang tidak seperti biasanya.

"Saya sudah merasakan Evo 1 hingga Evo 10 (Mitsubishi). Tapi untuk kali ini saya turun dengan kendaraan MPV Xpander. Mobil keluarga. Makanya saat ini menjadi perbincangan internasional," kata Rifat Sungkar.

Menurut dia, kendaraan yang digunakan saat ini sudah berada di New Zealand. Kendaraan sendiri sudah diubah sesuai dengan spesifikasi kelas yang bakal diikuti, yaitu AP4. Hanya saja, Rifat mengaku belum mencoba kendaraan yang bakal dikendarai dengan sang navigator muda M Redwan.

"Mobil memang baru dibangun. Jadi semuanya butuh penyesuaian. Memang waktunya mepet dengan kejuaraan. Semoga kendaraan benar-benar siap saat kejuaraan tiba. Yang jelas saya tetap turun di kejuaraan seandainya Xpander belum bisa digunakan. Ada Plan B (gunakan kendaraan lain)," kata pebalap berusia 40 tahun itu.

Terkait lokasi balapan di Selandia Baru, Rifat menjelaskan negara di Pasifik itu merupakan salah satu negara yang memiliki lintasan reli terbaik di dunia. Dirinya juga cukup mengenal lintasan balap yang didominasi dengan gravel itu.

Sesuai rencana, Rifat Sungkar dengan tim akan bertolak menuju Selandia Baru, Minggu (11/8). Setibanya di sana, jadwal padat siap dijalani mulai dari menjajal kendaraan barunya yang saat ini digarap Rally Art New Zealand pada 14-15 Agustus. Sehari berikutnya survei lintasan dan tepat HUT ke-74 Kemerdekaan RI adalah waktu balapan.

"Saya turun di balapan ini bukan mencari kemenangan, tapi untuk membangun kendaraan baru. Untuk membangun kendaraan memang membutuhkan proses. Doakan semuanya sesuai dengan rencana," kata pria yang juga mendalami drifting dan sprint offroad itu.

Pewarta: Bayu Kuncahyo
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ekspor Xpander RI genjot pertumbuhan ekonomi

Komentar