Jakarta (ANTARA News) - Anggota BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) Heru Sutadi mengatakan penurunan tarif dasar telekomunikasi termasuk tarif seluler itu menguntungkan konsumen dan operator. "Penurunan tarif justru menguntungkan konsumen karena selama ini yang terjadi 'operator surpluss' dan 'consumen loss', sehingga dengan tarif yang baru diharapkan akan terjadi solusi yang saling menguntungkan antara konsumen dan operator," kata Heru Sutadi yang dihubungi di Jakarta, Minggu. Heru menyatakan hal tersebut menanggapi hasil survei IDM (Indonesia Development Marketing Research) mengenai dampak penurunan tarif seluler KPPU yang menyatakan penurunan tarif justru menimbulkan 'consumer loss' bagi konsumen. Secara logika publik, kata Heru, penurunan tarif tetap menguntungkan konsumen karena selama ini di industri telekomunikasi terjadi operator surpluss dan consumen loss, di mana operator terlalu tinggi mengambil keuntungan dari tarif telepon dengan alasan untuk investasi dan pengembangan infrastruktur. Heru mengatakan meskipun regulator membuat kebijakan penurunan tarif telepon, tetapi tetap memberikan ruang keuntungan kepada operator untuk melakukan investasi dan membangun jaringan. "Proses penurunan tarif telepon dilakukan secara gradual dan kita ingin operator juga tetap bisa mengembangkan perusahaan dan tetap untung," katanya. Heru juga tidak setuju pendapat IDM yang mengatakan BUMN operator telekomunikasi tidak bisa meraih untung karena penurunan tarif. "Kalau dilihat traffik interkoneksi tidak ada penurunan dari BUMN operator telekomunikasi seperti Telkom, tidak ada penurunan. Tinggal bagaimana mereka bisa menambah pengguna telepon dan menaikkan trafik telekomunikasi agar tetap bisa untung," jelas Heru. "Dalam UU BUMN, pendapatan negara itu tidak selalu identik dengan uang yang disetor ke negara, tetapi arahnya adalah kesejahteraan rakyat," katanya. Heru juga menolak hasil survei IDM yang menyebutkan 70 persen responden yang mengalami "consumer loss" karena menurunnya kualitas layanan setelah diberlakukannya penurunan tarif. "Consumer loss itu tidak bisa diidentikan dengan layanan. Consumer loss bila konsumen membayar lebih tinggi dibandingkan yang layanan yang didapatkan," sambungnya. Agar tidak terjadi gangguan layanan karena tingginya trafik telepon karena penurunan tarif, Heru mengatakan, BRTI meminta kepada konsumern agar menggunakan telepon secara bijak. Sebelumnya, IDM (Indonesia Development Marketing Research) mengungkapkan hasil surveinya mengenai dampak penurunan tarif seluler di mana responden merasa puas terhadap langkah yang dilakukan oleh operator seluler, sebagaimana yang diputuskan oleh pemerintah. "Tetapi dari sisi produk yang didapat oleh para responden, lebih dari 70 persen responden merasa tidak puas. Hal ini disebabkan karena makin bertambahnya jumlah pengguna telepon seluler pasca bayar, yang mengakibatkan kepadatan trafik komunikasi sehingga layanan menjadi terganggu," kata juru bicara Indonesia Development Marketing Research (IDM) Munathsir di Jakarta, Rabu (23/4).(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2008