Peserta SMN asal Babel bedah buku "Bingkai Anak Negeri"

Peserta SMN asal Babel bedah buku "Bingkai Anak Negeri"

Peserta SMN asal Bangka Belitung, saat membedah buku berjudul 'Bingkai Anak Negeri'. Buku tersebut merupakan catatan perjalanan dan pengalaman peserta SMN tahun 2018 lalu. (ANTARA/Harianto)

Kendari (ANTARA) - Peserta Siswa Mengenal Nusantara (SMN) asal Provinsi Bangka Belitung (Bebel) melakukan bedah buku "Bingkai Anak Negeri" dengan harapan bisa membuat tulisan yang baik dan mampu menjadi penulis profesional.

Buku yang berjudul "Bingkai Anak Negeri" merupakan catatan perjalanan dan pengalaman peserta SMN tahun 2018 lalu. Dalam buku tersebut dituliskan pengalaman serta pesan dan kesan sebanyak 853 peserta SMN 2018 dari 34 provinsi se-Indonesia.

Narasumber yang dihadirkan dalam bedah buku tersebut yaitu seorang penulis buku dan dosen di Universitas Halu Oleo (UHO), Dr Muh Najib Husein, di Kendari Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin itu dimoderatori pewarta ANTARA Biro Sultra, Sarjono.

Baca juga: "Laskar Pelangi" semarakkan penyerahan Diary "Bingkai Anak Negeri"

Najib Husen mengatakan, dalam menulis buku harus ada Pendahuluan, isi dan  penutup. Meskipun penulisan tersebut hanya beberapa alinea, tetapi tiga bagian tersebut harus tertuang dalam sebuah tulisan.

"Dalam menulis, kalimat yang ditulis harus spontan agar tidak kaku, kata-kata yang digunakan dalam buku ini sangat kaku, terutama sebuah testimoni itu harus lebih spontan, lebih bebas," kata Najib Husein kepada pada peserta SMN saat membedah buku.

Menurut Najib, beberapa kekurangan dalam penulisan buku yang berjudul "Bingkai Anak Negeri" yaitu masih ditemukan kesalahan lokasi dan nama, tidak disusun berdasarkan pulau, tidak memiliki banyak gambar serta isi tulisan lebih menggambarkan Siswa Mengenal BUMN bukan mengenal Nusantara.

"Seharusnya disusun berdasarkan pulau, misalnya diawali dari Sulawesi, Kalimantan, Jawa, Sumatera dan Papua. Setelah itu tidak banyak gambar dan yang paling menonjol adalah isi tulisan lebih ke program Siswa mengenal BUMN, bukan mengenal nusantara," kata dia.
Peserta SMN asal Bangka Belitung, saat membedah buku berjudul 'Bingkai Anak Negeri'. Buku tersebut merupakan catatan perjalanan dan pengalaman peserta SMN tahun 2018 lalu. (ANTARA/Harianto)


Salah seorang peserta SMN Suryani asal SMAN 1 Simpang Rimba Provinsi Bangka Belitung, mengatakan, dirinya sangat bahagia telah memiliki pengetahuan dan cara menulis yang baik dan menarik untuk dibaca.

Baca juga: SMN serahkan diary "Bingkai Anak Negeri" ke Perpustakaan Babel

"Saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga disini, kami diajar cara menulis karya ilmiah yang benar, cara menulis diary yang menarik untuk dibaca, ," kata dia.

Salah seorang guru pendamping SMN asal Bangka Belitung, Rikardo Henri asal SMAN 1 Pemali Kabupaten Bangka berharap, melalui tulisan perjalan para peserta SMN di Sultra, bisa menjadi jendela Sulawesi Tenggara bagi masyarakat di luar Sultra.

"Harapan saya agar siswa-siswi kami lebih banyak mengenal budaya dan wisata lainnya yang ada di Sultra dan bisa membuat suatu resume sehingga tulisan anak-anak didik di Indonesia dapat meliah Sulawesi Tenggara melalui tulisan dalam buku resume tersebut," kata Ricardo Henri.

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar