counter

Satwa liar masuk ke permukiman akibat terdesak kebakaran lahan

Satwa liar masuk ke permukiman akibat terdesak kebakaran lahan

Kebakaran lahan di Kotawaringin Timur tidak hanya berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga mengancam keberadaan satwa liar karena habitat mereka menjadi rusak. (Foto Istimewa)

Seminggu sebelumnya, kami sudah ke lokasi karena ada laporan gangguan, tapi saat itu orangutan tidak ditemukan,
Sampit (ANTARA) - Kebakaran lahan yang terjadi di banyak tempat di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dalam dua bulan terakhir memaksa satwa liar menyelamatkan diri, bahkan ada yang sampai masuk ke kebun dan permukiman warga.

"Seperti adanya orangutan yang masuk ke kebun warga di Desa Bagendang Hilir, itu kami perkirakan 100 persen dampak kebakaran lahan karena semak belukar dan pepohonan di kawasan itu banyak yang terbakar," kata Komandan Pos Jaga Sampit Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Muriansyah di Sampit, Selasa.

Ia menambahkan, Minggu (18/8) sore lalu pihaknya mendapat informasi bahwa warga Desa Bagendang Hilir Kecamatan Mentaya Hilir Utara ada menangkap orangutan berukuran besar. Beberapa hari sebelumnya memang sudah ada informasi kemunculan orangutan di kawasan itu.

Baca juga: Legislator Kotim: Perlu penyesuaian jam sekolah selama kabut asap

Tim BKSDA kemudian mempersiapkan peralatan untuk mengevakuasi orangutan tersebut. Saat hendak berangkat, tim mendapat informasi lanjutan bahwa orangutan tersebut terlepas dan kabur.

"Seminggu sebelumnya, kami sudah ke lokasi karena ada laporan gangguan, tapi saat itu orangutan tidak ditemukan. Kami memberi pengarahan kepada warga agar kalau orangutan muncul lagi, laporkan kepada kami, tapi pas orangutan muncul lagi ternyata ditangkap warga, padahal berisiko tinggi," jelasnya.

Kawasan tersebut memang cukup parah dilanda kebakaran lahan. Diduga kebakaran lahan berawal di perbatasan yang masuk wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, kemudian merembet hingga ke Desa Bagendang Hilir Kecamatan Mentaya Hilir Utara.

Baca juga: Sudah empat warga Kotawaringin Timur jadi tersangka pembakar lahan

Melihat kondisi di lapangan, kata Muriansyah memang tidak kondusif lagi bagi satwa liar. Selain habitat yang rusak, satwa juga makin kesulitan mencari makanan sehingga mulai merambah kawasan permukiman dan kebun warga.

Rusaknya habitat membuat banyak satwa yang mencari kawasan baru untuk bertahan dan mencari makanan. Kondisi ini dikhawatirkan menimbulkan konflik antara satwa dengan manusia yang bisa berakibat terancamnya populasi satwa

Belum lama ini BKSDA juga menerima laporan kemunculan kawanan bekantan yang jumlahnya sangat banyak di salah satu kebun warga di Desa Telaga Baru Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Namun saat tim BKSDA ke lokasi, kera hidung panjang yang juga merupakan satwa dilindungi tersebut sudah lari ke hutan.

"Kalau melihat ada satwa liar, khususnya yang dilindungi, kami minta warga segera menghubungi kami supaya bisa kami tangkap dan evakuasi dengan cara yang benar. Warga jangan menangkap sendiri karena berisiko bagi satwa tersebut maupun bagi warga sendiri," demikian Muriansyah.

Baca juga: Seorang lagi petani Kotim diproses hukum karena diduga membakar lahan

Pewarta: Kasriadi/Norjani
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Polres Kotim teliti sampel gambut terbakar di Mentaya Hilir Utara

Komentar