counter

Paket wisata melukis payung diminati pengunjung Borobudur

Paket wisata melukis payung diminati pengunjung Borobudur

Seorang wisatawan melukis payung di Desa Home Stay Dusun Ngaran II Borobudur. (Heru Suyitno)

Jadi di Candi Borobudur itu banyak relief payung, di situ menggambarkan payung itu adalah untuk melindungi dari panas dan hujan
Temanggung (ANTARA) - Paket wisata melukis payung di Kampung Home Stay Borobudur di Dusun Ngaran II, Borobudur Kabupaten Magelang banyak diminati pengunjung, kata Ketua Kampung Home Stay Borobudur, Muslih.

Muslih di Magelang, Selasa, mengatakan wisata melukis payung ini merupakan paket baru dan di Kabupaten Magelang baru ada di Kampung Home Stay Borobudur.

Ia menyampaikan hal tersebut saat menerima kunjungan puluhan wartawan di Jawa Tengah bersama Dinas Kominfo Provinsi Jawa Tengah.

Ia menuturkan, pihaknya mengangkat payung payung ini terinspirasi dari relief Candi Borobudur.

Baca juga: Luhut sebut 3 arahan implementasi rencana induk pariwisata terpadu

"Jadi di Candi Borobudur itu banyak relief payung, di situ menggambarkan payung itu adalah untuk melindungi dari panas dan hujan," katanya.

Selain itu, pihaknya juga terinspirasi festival payung tahun 2017 yang diselenggarakan di kawasan Taman Wisata Candi Borobudur.

Menurut dia, wisatawan cukup antusias melukis payung, apalagi hanya dengan Rp60.000-Rp100.000 pengunjung bisa membawa pulang payung dengan lukisan hasil karyanya.

Baca juga: PersiapanTour d'Indonesia matang, 18 tim siap berpacu

"Mereka sangat antusias ada warna tersendiri, ada kenangan ketika berkunjung ke sini," katanya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin dalam sarasehan bersama wartawan menuturkan pihaknya mendorong masyarakat lokal untuk terlibat dalam pengelolaan destinasi wisata.

"Saya senang ketika datang di Borobudur ada Omah Mbudur, Desa Bahasa dan lainnya dikelola oleh orang-orang pribumi, karena yang paling penting dalam pariwisata harus dapat menyejahterakan masyarakat sekitar," katanya.

Ia menuturkan banyak destinasi wisata di luar Jawa Tengah yang dikelola bukan masyarakat lokal bahkan dari luar negeri sehingga yang menikmati justru orang luar.

"Harapannya kalau pengembang itu pribumi saya yakin kecintaan kepada tanah lahirnya, budayanya sangat kuat sehingga kita dapat memprotek kebudayaan asli, tidak merusak ekosistem, tidak merusak kebudayaan yang ada di sekitar sini," katanya.

Baca juga: Ariya siap pertahankan gelar, meski 2019 lebih kompetitif
 

Pewarta: Heru Suyitno
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar